”Sejak akhir Mei , kami sudah ke daerah Sape dan Donggo di Kabupaten Bima, serta ke komunitas literasi yang ada di wilayah Tambora, Dompu,” terang Puji Retno Hardiningtyas, Kamis (8/6).
Peningkatan baca tulis dalam Rangka Gerakan Literasi Berbasis Komunitas di Kabupaten Bima dan Dompu, melibatkan 220 peserta. Dengan tiga lokasi kegiatan, menyasar partisipasi aktif para pegiat literasi dan masyarakat setempat.
Pelaksanaan difokuskan di Sape dengan 140 peserta, Donggo 30 peserta, dan Tambora 50 peserta. ”Karena wilayah ini termasuk dalam wilayah 3T, itu yang membuat kami semangat untuk datang dan mengabdi,” ujarnya.
Tujuannya, memberikan dampak baik untuk masyarakat dalam literasi baca tulis. Dorongan akan peningkatan literasi baca tulis, bisa ditunjukkan melalui berbagai gagasan atau ide. Baik yang berasal dari pengalaman, alam sekitar, maupun kebiasaan sehari-hari. Semuanya bisa dituangkan dalam bentuk karya tulis berupa esai, cerpen, puisi, dan sejenisnya. ”Kegiatan ini sangat erat kaitannya dengan program kerja utama kami, yang juga bisa diterapkan di sekolah sebagai bentuk dorongan peningkatan literasi di lingkungan pendidikan,” jelas wanita bergelar doktor tersebut.
Dengannya, anak-anak usia sekolah sebagai generasi muda dan pegiat literasi dapat menulis gagasannya secara ringkas. Seperti resensi cerita dengan topik yang menarik, ide dari alam atau lingkungan sekitar. Juga unsur pengembangan ide lainnya. ”Tulisan-tulisan tersebut bisa dirangkum menjadi kumpulan karya tulisan esai atau resensi dari adik-adik yang terlibat di komunitas,” kata dia.
Retno lantas menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Pantai Labu Raba, Tambora, Kabupaten Dompu. Kantor Bahasa NTB bersama komunitas Tapak Seribu melaksanakan kegiatan penguatan literasi baca tulis. ”Kami berupaya terus melakukan pembangunan karakter melalui program peningkatan literasi baca tulis,” ujarnya.
Di kesempatan itu, ia berpesan kepada pegiat literasi, harus terus semangat membangun literasi. ”Bisa dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal, dan potensi wisata di Tambora. Melalui berbagai cerita dan kisah yang berkembang di masyarakat,” tegasnya.
Di Desa Mbawa, Kecamatan Donggo, dia menyaksikan kondisi warga yang multirumpun. Berasal dari rumpun Bima, Sumbawa, dan Sumba, dengan latar belakang pendidikan dan agama yang beragam.
Untuk memulai menggelorakan semangat literasi baca tulis, pihaknya memperhatikan kondisi bahasa di daerah. Bahasa Mbojo sedang pada tahapan revitalisasi oleh Kantor Bahasa NTB.
Seluruh elemen seharusnya melakukan pembelajaran dalam bahasa Mbojo. Untuk dialek lain, masyarakat bisa menggunakan dialek tersebut sebagai komunikasi sehari-hari. ”Tidak hanya itu, kami juga memetakan dan memperhatikan bahasa-bahasa lainnya yang tumbuh dan berkembang di NTB, seperti bahasa Bajo, Bugis, Arab, Jawa, dan beberapa bahasa lainnya,” terang Retno.
Setelahnya, Kantor Bahasa NTB masuk ke tahapan pengenalan literasi. Literasi pertama yang harus dipahami, yaitu baca tulis. ”Kita menulis karya-karya hebat berawal dari lingkungan sekitar kita. Saya melihat ibu-ibu menggunakan baju adat Donggo, ini salah satu bentuk pelestarian budaya,” pungkasnya.
Pemenang I Duta Bahasa NTB 2023 Gusti Bagus Naufal antusias mengikuti kegiatan tersebut. Banyak hal baru yang ditemuinya. Terlebih penguatan literasi baca tulis diisi dengan kegiatan bervariatif, dengan melibatkan partisipasi siswa. Dalam bentuk kuis, permainan, tanya jawab, dan diakhiri dengan menuliskan cita-cita pada pohon impian oleh siswa yang hadir. ”Kami berharap, ini dapat memacu semangat belajar, menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan literasi baca-tulis. Dan menjaga semangat untuk selalu yakin bahwa pendidikan merupakan hal penting untuk dikuatkan bersama,” ujarnya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida