”Kami melakukan evaluasi berdasakan hasil rapor pendidikan di sekolah, ternyata skor literasi menurun,” kata Kepala SMPN 17 Mataram Hartati Panca Mardikawati.
Diutarakan, dari hasil evaluasi tercatat 27 siswa belum bisa membaca. Rinciannya, kelas VII sebayak 23 siswa, dan kelas VIII sebanyak empat siswa.
”Siswa yang belum bisa membaca kita berikan pembinaan khusus,” kata Hartati, sapaan karibnya.
Dikatakan, siswa yang belum bisa membaca diberikan pembinaan usai literasi Alquran setiap pagi di sekolah. Siswa ini mendapat pembinaan dari guru bahasa Indonesia agar bisa membaca. ”Penyakitnya sudah ditahu dan akan diobati,” ucapnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga mendatangkan tim Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB. Guna mengadakan workshop untuk membekali guru dalam program peningkatan literasi.
”Kita harus mengenal anak dan bagaimana mengatasi persoalan anak,” terangnya.
Waka Humas SMPN 17 Mataram H Saipuddin Zohri mengatakan, pada workshop ini para wali siswa juga diundang. Sehingga mereka juga bisa memberikan bimbingan kepada anaknya di rumah atau tempat tinggal.
”Setelah kita telusuri, kebanyakan siswa yang belum bisa membaca berasal dari keluarga yang orang tuanya cerai. Bapaknya kawin lagi, ibunya juga kawin lagi. Anak tinggal bersama kakek dan neneknya,” ujarnya.
Kendati demikian, siswa yang belum bisa membaca menjadi tanggung jawab pihak sekolah bersama keluarga. Bahkan ia meminta pihak keluarga untuk tetap memberikan perhatian kepada siswa yang orang tuanya pisah.
”Kita minta kakek dan neneknya untuk memperhatikan cucunya di rumah,” pungkasnya. (jay/r9)
Editor : Redaksi Lombok Post