LombokPost-Universitas Mataram (Unram) Mataram menindaklanjuti kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Tindak lanjut dukungan riset untuk pengembangan hilirisasi industri rumput laut menjadi kesepakatan kedua belah pihak.
”Kami juga ada produk unggulan lain di Pulau Lombok dan Sumbawa yang bisa dikembangkan,” kata Rektor Unram Prof Bambang Hari Kusumo, selasa (23/1).
Kespekatan tindak lanjut kerja sama di Ruang Sidang Senat Unram dihadiri Wakil Kepala BRIN Prof Amarulla Octavian, Wakil Rektor Bidang Akademik Unram Prof Sitti Hilyana, dosen Unram, dan pihak BRIN lainnya.
Prof Bambang menuturkan, kerja sama dengan BRIN tidak hanya meningkatkan produksi rumput laut, namun juga produk unggulan lain di NTB. Untuk rumput laut sendiri, tantangannya dalam pengembangan. Terutama bibit yang dipetik dan dikembangkan lama-lama secara gradual membuat produksi menurun.
”Walau pun produksi rumput laut kita masih tinggi di dunia, ini tetap menjadi tantangan,” kata rektor.
Menurutnya, hilirisasi merupakan bagian yang sangat penting. Karena produk rumput laut ini bisa dijadikan bahan kosmetik, sumber energi, biotanol, pupuk, dan sebagainya. ”Kalau di Lombok ini sering kita dengar Phoenix Mas. Dijadikan manisan untuk oleh-oleh dan sangat familiar,” tuturnya.
”Tanpa riset yang betul-betul akurat dan menyentuh kepada permasalahannya maka bisa saja potensi rumput laut tidak bisa optimal,” imbuhnya.
Untuk itu lanjut Prof Bambang, riset-riset yang dikembangan disamping untuk budi daya, juga mengarah ke kosmetik.
”Bagaimana hilirisasi dari produk yang ada ini. Kemudian bisa meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat. Hilirisasi bioetanol, sumber pangan, pupuk, dan sebagainya ini potensinya cukup besar,” ujar Bambang.
Dari informaasi di beberapa media kata dia, potensi hilirisasi rumput laut mencapai Rp 182 triliun. Hilirisasi rumput laut ini semacam emas hijau yang bisa menyaingi tambang nikel. ”Ini yang kita dengar. Kolaborasi dengan BRIN harus bisa mengatasi permasalahan rumput laut,” harapnya.
Dia menyebutkan, harga rumput laut sekarang ini bisa mencapai Rp 40 ribu untuk satu tas kresek. Harga tinggi ini tentu akan meningkatkan pemasukan masyarakat. ”Kami tidak ingin hanya industri saja yang untung,” ucapnya.
Dikatakan, harga rumput laut di petani harus dijaga. Jangan hanya mereka sebagai penanam dan harganya murah.
”Kita juga akan carikan spesies rumput laut yang nilai jualnya tinggi dan membuat nelayan antusias menanam agar bisa menghidupi keluarga,” urainya.
Unram memiliki dana yang cukup besar untuk mendorong dosen melakukan riset untuk pengembagan hilirisasi industri rumput laut, lobster, teripang, dan sebagainya.
”Kami tantang para dosen mengajukan riset yang dibutuhkan. Mengarah pada teknologi tepat guna dan memecahkan masalah di masyarakat,” pungkasnya.
Wakil Kepala BRIN Prof Amarulla Octavian mengajak para dosen Unram mengembangkan potensi rumput laut di Lombok.
”Kita akan melakukan riset bersama memetakan seluruh pantai di Lombok ini yang cocok untuk jenis-jenis rumput laut yang akan kita hilirisasi,” katanya.
Pihaknya juga mengundang para peneliti dari Unram memanfaatkan laboratorium BRIN yang ada di Lombok Utara. Ia akan merasa senang jika calon-calon periset memperkuat BRIN. Baik itu dari mahasiswa dan dosen.
Bahkan pihaknya menyiapkan anggaran untuk periset di Indonesia.
”Inovasi dan teknologi bukan hanya datang dari dosen, namun juga masyarakat dan swasta,” pungkasnya. (jay/r9/*)
Editor : Kimda Farida