Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

LPPM Unram dan BKKBKN NTB Bersinergi Turunkan Stunting

Ali Rojai • Selasa, 11 Juni 2024 | 18:05 WIB
KOLABORASI: LPPM Unram dan BKKBN NTB memberikan pembekalan kelompok KKN PMD periode Juli-Agustus di Ruang Sidang Utama LPPM Unram, kemarin (10/6).(UNRAM FOR LOMBOK POST)
KOLABORASI: LPPM Unram dan BKKBN NTB memberikan pembekalan kelompok KKN PMD periode Juli-Agustus di Ruang Sidang Utama LPPM Unram, kemarin (10/6).(UNRAM FOR LOMBOK POST)

LombokPost-Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mataram (Unram) bersama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) NTB menggelar pembekalan kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) periode Juli-Agustus.

Kegiatan berlangsung di Ruang Sidang Utama LPPM Unram, Senin (10/6).

Kepala LPPM Unram Prof Sukartono memaparkan, kolaborasi antara Unram dengan BKKBN NTB ini sebagai bagian dari upaya menurunkan angka stunting.

Dengan menargetkan angka prevalensi stunting turun diangka 14 persen pada 2024.

Perguruan tinggi dapat membantu pemerintah untuk memberikan pendampingan kepada keluarga yang berisiko stunting.

Sehingga ibu-ibu dapat melahirkan bayi yang sehat melalui tri dharma perguruan tinggi.

Berdasarkan Perpres Nomor 72 Tahun 2021 sebagai pedoman turunan dalam pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN Pasti), perguruan tinggi termasuk di dalam struktur sebagai kordinator monitoring evaluasi percepatan penurunan stunting.

”Salah satu peran perguruan tinggi adalah turut membantu masyarakat, terutama pada pemenuhan gizi yang sehat, beragam, dan seimbang,” kata Prof Sukartono.

Stunting merupakan salah satu tantangan besar dalam upaya pembangunan sumber daya manusia untuk mewujudkan generasi unggul dan berkualitas.

Hasil Studi Kasus Gizi Indonesia (SSGI) 2021 menunjukkan terjadi penurunan angka prevalensi stunting dari 27,7 persen pada 2019 menjadi 24,4 persen pada 2021. Namun angka tersebut masih cukup tinggi, WHO menetapkan standar angka stunting di sebuah negara setidaknya berada di bawah angka 20 persen.

Dengan angka prevalensi stunting 24,4 persen. Artinya 6 juta dari 23 juta anak Indonesia mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dr Hayati menjadi narasumber utama dalam pembekalan KKN PMD dengan tema Desa Sehat ini. Dia menerangkan bahwa stunting diawali dengan kurangnya pengetahuan dalam pemenuhan gizi, baik ibu hamil maupun bayi atau anak.

Mahasiswa sebagai agent of change dapat berkolaborasi dengan mitra seperti posyandu, tokoh agama, local champion, kadus, kades, PKK, dan lainnya.

Dalam pelaksanaan KKN kata dia, penyebaran informasi harus memperhatikan metode dan media.

Tentukan sasaran kegiatan. Jika sasaran yang dituju skala luas, pendekatan dapat dilakukan dengan melakukan sosialisasi, pemutaran film, baliho, dan sebagainya.

”Slogan ini bisa dijadikan alternatif sebagai bahan ingat dalam melakukan promosi peningkatan gizi,” tuturnya.

Unram melalui program KKN-PMD sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat menjadi langkah yang paling strategis dalam memperkuat perencanaan dan penganggaran penanganan stunting.

Meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan percepatan penurunan angka stunting. Meningkatkan kualitas pemantauan, evaluasi, pelaporan, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Budiman, satgas BKKBN NTB menuturkan, peran dan keberadaan mahasiswa KKN-PMD atau Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Unram sangat penting.

Hal ini sebagai upaya Unram dalam menangkap isu-isu nasional dan daerah melalui pendekatan akademis yang inovatif.

”Kolaborasi ini menjadi penting karena dalam menurunkan angka tersebut diperlukan tindakan preventif pada keluarga berisiko,” ucapnya.

Kegiatan harus dilakukan dengan konvergen, holistik, dan terintetgrasi. Pada 2024 pemerintah melalui BKKBN akan melakukan intervensi serentak.

”Kami berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan dengan menjadi mahasiswa peduli stunting,” imbuhnya.

Kegiatan belajar tersebut dapat diterapkan melalui kegiatan pendidikan, pengajaran, penelitian.

Maupun pengabdian masyarakat yang disinergikan bersama BKKBN dapat menjadi peluang penting untuk mengkaryakan mahasiswa melalui program KKN-PMD atau MBKM.

Oleh sebab itu, percepatan penurunan stunting serius dijalankan dan Unram mampu membantu menyelesaikan permasalahan stunting melalui delapan kegiatan dalam pembelajaran mahasiswa.

Seperti memberikan sosialisasi, edukasi, antisipasi pada masyarakat yang dilakukan di bawah bimbingan para dosen.

Kepala Pusat KKN dan Kerja Sama LPPM Dr Misbahuddin meguatarakan hal serupa. Kemampuan analisis mahasiswa diharapkan mampu menggali potensi desa.

Terutama potensi-potensi lokal yang tersedia untuk membangkitkan ekonomi kreatif, ekonomi hijau, ekonomi biru dan kesehatan mandiri warga desa.

Terdapat beberapa masalah yang umumnya membersamai stunting . Di antaranya permasalahan ekonomi,merarik kodek (pernikahan dini). lingkungan, dan lainnya.

Sehingga mahasiswa KKN perlu mengobservasi dan menggali potensi desa. Seperti pangan lokal yang bisa diubah menjadi produk olahan. Misalnya cemilan atau olahan yang bernilai gizi tinggi dan bisa dijual.

”Hal ini bisa sebagai salah satu peningkatan kesehatan mandiri. Oleh karena itu mahasiswa dapat bekerja sama dengan UMKM desa untuk meningkatkan ekonomi kreatif,” pungkasnya. (jay/r9/*)

Editor : Kimda Farida
#Unram #BKKBN