LombokPost-Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Guru Besar kepada Prof. Dr. Nuruddin, S.Ag., M.Si dalam ranting ilmu/kepakaran Desain Pembelajaran.
Penyerahan SK tersebut berlangsung di UIN Mataram, pada 9 Januari 2025.
Ini menjadi momen bersejarah, menandai pencapaian akademik tertinggi sekaligus menegaskan kontribusinya dalam pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia.
Rektor UIN Mataram Prof. Dr. Masnun Tahir, M.Ag memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan kerja keras Prof. Dr. Nuruddin dalam dunia pendidikan, khususnya dalam kepakaran desain pembelajaran.
"Beliau telah memberikan kontribusi dalam pengembangan metode pembelajaran yang inovatif dan berbasis kearifan lokal. Semoga pencapaian ini semakin memotivasi kita semua untuk terus berinovasi dalam dunia akademik," ujar Rektor.
Prof. Dr. Nuruddin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh UIN Mataram serta kolega akademik yang telah mendampinginya selama ini.
"SK Guru Besar ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga tanggung jawab besar untuk terus berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang desain pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman," jelasnya.
Prof. Dr. Nuruddin menerima SK Guru Besar, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 141509/M/07/2024 tentang Kenaikan Jabatan Akademik atau Fungsional Dosen.
Karena itu terhitung mulai 1 Desember 2024, Prof. Dr. Nuruddin dinaikkan jabatannya menjadi Guru Besar dalam ranting ilmu atau kepakaran Desain Pembelajaran.
Adapun desain pembelajaran muatan lokal berbasis research yang ditulis oleh Prof. Dr. Nuruddin adalah Studi Tentang Nilai Pendidikan Karakter Dalam Tradisi Peraq Api Masyarakat Suku Sasak.
Peraq Api merupakan bagian dari ritus hidup yang sarat kompleksitas prosesi dan makna-makna simbolik pada rangkaian pelaksanaannya.
“Peraq Api sendiri bisa dimaknai sebagai ritus untuk pemberian nama pada bayi yang baru lahir dengan prosesi yang lekat dengan kekeluargaan dan silaturahmi pada masyarakat suku Sasak,” terang Prof. Dr. Nuruddin.
Melalui desain pembelajaran muatan lokal berbasis riset dalam tradisi peraq api ini, dirinya menghubungkan hal tersebut ke dalam kearifan lokal dalam masyarakat suku Sasak.
“Banyak sekali hal-hal yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran berbasis riset dalam upaya menguatkan pendidikan karakater sebagai basis pada pendidikan di perguruan tinggi,” kata dia.
Desain pembelajaran muatan lokal dalam bentuk riset ini juga sebagai upaya untuk membangun kesadaran pendidik, peserta didik, maupun masyarakat secara umum tentang pentingnya menjaga eksistensi kearifan lokal sebagai ekspresi identitas suatu masyarakat.
Dalam hal ini masyarakat suku Sasak yang lekat dengan nilai-nilai Islam yang dijunjung tinggi juga berupaya membangun satu-kesatuan antara identitas suku, etnis yang sekaligus juga menampilkan identitas agama dalam tradisi-tradisi yang mapan.
“Tradisi-tradisi inilah yang bisa dijadikan medium pembelajaran berbasis riset yang bisa digalakkan dalam pendidikan di perguruan tinggi dengan menggali nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalamnya,” jelas sang Guru Besar.
Tidak dipungkiri, kajian tentang desain pembelajaran muatan lokal berbasis riset ini bukan sesuatu yang baru muncul pada dekade ini, namun merupakan reproduksi dari kajian-kajian ataupun hasil olah pikir dari ahli ataupun pakar-pakar dalam bidang pembelajaran baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Pembelajaran muatan lokal berbasis riset yang disajikan Prof. Dr. Nuruddin, adalah sesuatu yang akan terus bergerak dinamis dan akan menemukan ruang untuk reproduksi yang lebih kontekstual, sebagai pengetahuan yang terus berkembang.
Selain itu juga ditulis dalam bentuk karya buku berjudul Model Desain Pembelajaran: Sosiologi Pendidikan.
“Buku ini membahas pendekatan inovatif dalam mendesain pembelajaran dengan karakteristik PTKIN melalui kombinasi teori dan praktik,” jelasnya.
Apalagi di era serba cepat dengan kehadiran teknologi kecerdasan buatan saat ini tentunya banyak hal juga akan ikut tergerus jika tidak disikapi secara baik dan berkelanjutan dalam konsep-konsep kearifan lokal pada suatu kelompok masyarakat. (yun/*)
Editor : Kimda Farida