LombokPost-Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat) mengukuhkan dua guru besar dalam sidang senat terbuka di Auditorium H Anwar Ikraman, Selasa (18/2).
Kedua guru besar tersebut adalah Prof. Joni Safaat Adiansyah, ST.M.Sc.,Ph.D., dan Prof. Dr. Made Suyasa, M.Hum.
Prof. Joni Safaat Adiansyah, ST.M.Sc.,Ph.D., ditetapkan sebagai guru besar dalam bidang ilmu kajian daur hidup berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI Nomor 139038/M/07/2024 tanggal 3 Desember 2024.
Sementara Prof. Dr. Made Suyasa, M.Hum., menjadi guru besar ilmu sastra dan tradisi lisan berdasarkan Surat Keputusan Mendiktisaintek RI Nomor 141393/M/07/2024 tanggal 18 Desember 2024.
Rektor Ummat Drs Abdul Wahab MA menyampaikan rasa syukurnya.
Menurutnya, prestasi ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kedua guru besar kepada masyarakat, bangsa dan negara, khususnya dalam penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berkualitas.
“Prestasi ini juga merupakan bukti dari dedikasi kami di Ummat dalam meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas pendidikan dalam mencapai visi kampus yang Islami, mandiri, unggul, dan berdaya saing di kawasan ASEAN tahun 2028,” jelasnya.
Dengan dikukuhkannya Prof. Joni Safaat Adiansyah, ST.M.Sc.,Ph.D., dan Prof. Dr. Made Suyasa, M.Hum., Ummat berharap hal ini bisa menginspirasi para akademisi yang lain untuk segera menjadi guru besar.
Saat ini, Ummat memiliki 32 lektor kepala. Artinya ada potensi jumlah guru besar terus bertambah.
Tentu, semua ini harus dibarengi dengan kemauan yang keras.
Rektor pun percaya para lektor kepala ini mampu mencapai jabatan guru besar tersebut.
“Perlu disadari, bahwa pencapaian guru besar ini bukan saja merupakan capaian pribadi sebagai seorang dosen, namun juga menjadi capaian universitas yang sangat penting,” kata Wahab.
Dengan dikukuhkannya dua guru besar baru, Ummat memiliki SDM yang secara kapasitas sudah sangat teruji keilmuannya.
Hal ini, tentunya akan membuat keberadaan Ummat semakin diakui oleh masyarakat dan dunia.
Sebab, jabatan guru besar menunjukkan pengakuan akan kompetensi di bidang akademik.
“Semakin banyak guru besar yang dikukuhkan menunjukkan semakin banyak pakar yang kita miliki. Ini tentunya akan berdampak pada penilaian terhadap kampus yang semakin baik, dan ini akan semakin meningkatkan kualitas kita semua sebagai salah satu dari jajaran kampus terbaik di NTB,” terangnya.
Atas prestasi ini, Ummat akan lari mengejar ketertinggalan dengan perguruan tinggi lain. Perbaikan penataan pengelolaan internal menjadi syaratnya.
Peran guru besar menjadi sangat penting sebagai pelopor inovasi melalui pendidikan, riset, dan pengabdian, serta karya besar untuk promosi Ummat.
“Pengembangan informasi teknologi dan riset-riset yang bermanfaat bagi masyarakat menjadi syarat mencukupkan bagi majunya Ummat. Saya berharap Prof Joni Safaat Adiansyah dan Prof Made Suyasa mampu berperan aktif di dalamnya,” harap Wahab.
Setelah pengukuhan guru besar ini, kontribusi keduanya bagi Ummat sangat diharapkan.
Dia berharap, dengan jabatan tertinggi di bidang akademik ini, semangat menulis, mengajar, mengabdi, dan meneliti tidak kendur, namun justru harus ditingkatkan untuk memberi kemaslahatan yang lebih besar.
“Akhirnya, mari kita berdoa, semoga ilmu beliau berdua bisa memberikan manfaat bagi diri beliau, bagi Ummat dan bangsa ini, dan juga semoga kita tidak lupa, bahwa apa pun capaian atau prestasi yang kita peroleh, di hadapan Allah yang utama adalah ketakwaan kita,” pesannya.
Prof. Joni Safaat Adiansyah, ST.M.Sc.,Ph.D., dalam orasi ilmiahnya menyampaikan tentang aplikasi kajian daur hidup untuk meningkatkan kinerja lingkungan pada sektor industri.
“Penerapannya dalam sektor industri telah terbukti sebagai pendekatan yang efektif dalam meningkatkan kinerja lingkungan, serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan,” tegasnya.
Kajian daur hidup memungkinkan industri untuk menilai dampak lingkungan dari berbagai aspek dalam siklus hidup produk atau proses produksi.
Keuntungan utama dari penerapan kajian daur hidup adalah kemampuannya dalam mengoptimalkan efisiensi penggunaan sumber daya dan mengurangi jejak lingkungan tanpa mengorbankan kualitas produk.
“Industri yang menerapkan kajian daur hidup lebih siap dalam menghadapi regulasi yang semakin ketat serta dapat memperoleh keunggulan kompetitif di pasar yang semakin menuntut keberlanjutan sebagai nilai utama,” terangnya.
Sementara, Prof. Dr. Made Suyasa, M.Hum., dalam orasi ilmiahnya menjelaskan tentang sastra dan tradisi lisan adalah produksi kultural dan kontestasi di dunia global.
Menurutnya, sastra sebagai bentuk ekspresi budaya tidak hanya berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pesan estetika dan nilai-nilai moral, tetapi juga sebagai arena di mana proses produksi kultural terjadi.
“Dalam konteks global, sastra menjadi ruang yang dinamis di mana berbagai ideologi, identitas, dan nilai-nilai budaya dipertaruhkan, dibahas dan diperdebatkan,” terangnya.
Dalam menjaga keberlangsungan produk kultural sastra dan tradisi lisan, keterlibatan perguruan tinggi dalam hal ini para dosen dan mahasiswa, tidak hanya terbatas pada penelitian dan pengajaran, tetapi juga upaya pelestarian, revitalisasi, dan adaptasi terhadap tantangan modern.
Menurutnya, kultural sastra dan tradisi lisan juga menjadi bagian dari ekspresi budaya, yakni menyampaikan pesan estetika dan nilai moral.
Arena produksi kultural, merupakan ruang dinamis untuk ideologi, identitas, dan nilai-nilai budaya. Berperan penting di perguruan tinggi, untuk mendukung penelitian, pengajaran, pelestarian, revitalisasi, dan adaptasi.
Proses pengukuhan dua guru besar ini dihadiri perwakilan Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, sejumlah kepala OPD lingkup Pemprov NTB, LLDikti Wilayah VIII, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB, pimpinan perguruan tinggi, jajaran dosen, mahasiswa serta stakeholder terkait lainnya. (yun)
Editor : Kimda Farida