Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pangkas Kepala Sekolah 'Titipan', Akademisi Dorong Gubernur Iqbal Berlakukan Meritokrasi Total

M Islamuddin • Rabu, 14 Mei 2025 | 08:14 WIB

Dr. Alfisahri.
Dr. Alfisahri.

LombokPost – Wacana seleksi kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB dinilai sebagai langkah penting dan mendesak untuk membenahi sistem pendidikan yang selama ini dinilai carut marut.

Akademi Dr. Alfisahri menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan pijakan fundamental dalam mendorong reformasi tata kelola pendidikan di daerah.

“Bergulirnya wacana kepala sekolah diseleksi terbuka, saya kira ini kebijakan fundamental untuk memperbaiki carut-marutnya sistem pendidikan di NTB. Gubernur NTB harus memberlakukan merit system secara menyeluruh di sektor pendidikan, karena selama ini seleksi kepala sekolah menjadi arena pasar gelap jual beli jabatan,” tegas Doktor Lulusan Universitas Hasanuddin (Unhas) ini.

Dia menyebut, praktik-praktik buruk seperti jual beli jabatan telah merusak marwah pendidikan. Banyak kepala sekolah dan koordinator wilayah (korwil) pendidikan di berbagai daerah di NTB terpilih bukan berdasarkan kompetensi dan kapasitas, melainkan karena pembayaran, titipan, atau hasil rekomendasi tim sukses.

Baca Juga: Hindari Praktik Percaloan, DPRD NTB Usulkan Seleksi Terbuka Kepala SMA dan SMK

“Praktik buruk tersebut tentu menciderai dan merusak filosofi dasar pendidikan sebagai kekuatan moral dan pembentuk karakter manusia. Kita harus menyadari bahwa indeks dan daya saing pendidikan merupakan indikator penting kemajuan suatu daerah,” jelasnya.

Menurut Alfisahri, sektor pendidikan yang dikelola secara profesional akan menjadi kunci lahirnya inovasi dan peningkatan daya saing daerah. Dia mendesak agar Gubernur NTB berani melakukan terobosan dengan menerapkan meritokrasi total dalam sektor pendidikan.

“Saya dorong Gubernur NTB berlakukan meritokrasi total di sektor pendidikan NTB, karena memang faktanya kualitas rata-rata pendidikan di NTB masih rendah dibandingkan daerah lain. Gubernur harus segera dipush untuk memberikan porsi dan kebijakan prioritas di bidang pendidikan agar rantai kebijakan politik yang patronistik dapat diputus,” paparnya.

Baca Juga: Pemprov NTB Seleksi 43 Jabatan Kepala SMA, SMK dan SLB Secara Terbuka, Jamin Penuhi Prinsip Meritokrasi

Dia menegaskan, pendidikan di NTB harus dikelola oleh orang-orang yang memiliki integritas, kapabilitas, dan kredibilitas. Dalam konteks ini, seleksi kepala sekolah harus dilakukan secara terbuka dan profesional.

“Supaya kepala sekolah yang terpilih bukan orang titipan, melainkan orang yang kompeten dan berkelas. Supaya tidak ada lagi kepala sekolah yang bermental profit oriented, yang hanya ingin mengelola dana BOS untuk keuntungan pribadi tanpa peduli terhadap prestasi sekolah,” lanjutnya.

Jika proses seleksi benar-benar dilakukan secara independen dan profesional, lanjut dia, maka hal tersebut merupakan langkah maju yang patut diapresiasi dalam upaya membenahi sistem pendidikan secara menyeluruh.

“Kebijakan ini tidak hanya menyasar peningkatan kualitas kepemimpinan di sekolah, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mencegah praktik-praktik gelap yang selama ini mencederai dunia pendidikan, khususnya praktik jual beli jabatan,” kata Alfisahri.

Baca Juga: Publik Berharap Birokrasi yang Berkualitas di Sistem Meritokrasi ala Iqbal-Dinda

Dia menyebut bahwa selama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa penempatan kepala sekolah di sejumlah daerah sarat kepentingan non-pedagogis. Transaksi jabatan kerap terjadi dalam rotasi atau pengangkatan kepala sekolah.

“Ketika jabatan diperjualbelikan, maka yang terjadi bukan seleksi berdasarkan merit dan kapabilitas, melainkan kemampuan membayar atau kedekatan politik. Akibatnya, pendidikan kehilangan orientasi substantifnya, dan kepala sekolah hanya menjadi alat birokratis, bukan pemimpin transformasional,” kritiknya.

Untuk itu, dia memuji langkah Pemprov NTB yang menyerahkan proses seleksi kepala sekolah secara terbuka sebagai bentuk komitmen terhadap tata kelola pendidikan yang bersih, transparan, dan akuntabel.

“Dengan melibatkan unsur akademisi, praktisi pendidikan, dan tokoh masyarakat yang kredibel, proses seleksi tidak lagi menjadi ruang gelap penuh negosiasi tersembunyi, melainkan ruang terbuka untuk mencari figur-figur terbaik yang layak memimpin satuan pendidikan,” tegas dia.

Baca Juga: Pro Kontra Soal Rumor Lalu Iqbal akan menganti posisi Pathul Bahri Nahkodai Gerindra NTB, Antara Wajar atau Balas Budi

Alfisahri menambahkan, kepala sekolah bukan hanya seorang administrator teknis, tetapi pemimpin pembelajaran yang berperan strategis dalam membentuk iklim akademik, membina guru, dan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang prestasi serta karakter siswa.

“Oleh karena itu, menempatkan orang yang tepat di posisi kepala sekolah adalah langkah fundamental dalam membangun sistem pendidikan yang kuat dan berdaya saing,” pungkasnya. ***

Editor : Jelo Sangaji
#sma smk #meritokrasi #NTB #Lalu Iqbal #kepala sekolah