Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

STTL Mataram Gelar Pengabdian Masyarakat, Dorong Pengrajin Tenun Gunakan Pewarna Alami Ramah Lingkungan

Yuyun Kutari • Selasa, 28 Oktober 2025 | 21:28 WIB
Tim PKM STTL Mataram berfoto bersama masyarakat yang mengikuti edukasi dan sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Pengrajin Tenun, di Desa Kembang Kerang Daya, Lotim awal Agustus lalu.
Tim PKM STTL Mataram berfoto bersama masyarakat yang mengikuti edukasi dan sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat Pengrajin Tenun, di Desa Kembang Kerang Daya, Lotim awal Agustus lalu.

LombokPost - Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) Mataram menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur (Lotim), 8 – 10 Agustus 2025.

Program tersebut bertajuk, Pemberdayaan Masyarakat Pengrajin Tenun untuk Menjaga Kesehatan Lingkungan dengan Pewarna Alami Dedaunan Sebagai Pewarna Kain Tenun Sesek.

Ini merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat di bawah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

“Kegiatan ini difokuskan pada pemberdayaan kelompok pengrajin tenun sesek, agar beralih dari penggunaan pewarna sintetis, menuju pewarna alami berbahan dedaunan yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan,” kata Ketua Tim Pelaksana PKM STTL Mataram Muhamad Majdi.

Desa Kembang Kerang Daya selama ini dikenal sebagai sentra industri tenun tradisional di Lombok Timur yang mempertahankan warisan budaya nenek moyang.

Namun di balik keindahan kain tenun sesek, masih tersimpan persoalan lingkungan. Sebagian besar pengrajin menggunakan pewarna sintetis, dalam proses produksi yang menghasilkan limbah cair berbahaya bagi tanah dan air.

"Selama ini, limbah hasil pewarnaan benang kerap dibuang langsung ke tanah atau selokan yang mengalir ke sungai," tegasnya.

Cara ini jelas tidak sesuai Peraturan Menteri (Permen) LH Nomor 12 Tahun 2025 dan Permen LHK Nomor 5 Tahun 2021, karena berpotensi merusak kualitas air, tanah, dan udara.

“Kami melihat kondisi ini terjadi, karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya bahan kimia serta belum adanya sistem pengolahan limbah di tingkat rumah tangga pengrajin,” jelasnya.

Anggota Tim Pelaksana PKM STTL Mataram Tina Melinda mengatakan melalui kegiatan pengabdian ini, tim dosen dan mahasiswa memberikan sosialisasi, edukasi, serta pelatihan praktik pembuatan dan penggunaan pewarna alami.

Semuanya dari bahan lokal seperti daun ketapang, daun mahoni, daun mangga, dan daun jambu biji. “Ini langsung dipraktekkan, sehingga para pengrajin tidak hanya mendapatkan pengetahuan teoritis, tetapi juga mampu mempraktikkan teknik pembuatan pewarna alami secara mandiri," jelasnya.

Program ini menghasilkan perubahan signifikan di kalangan pengrajin tenun Kembang Kerang Daya, khususnya Kelompok Pengarajin Tenun Kembang Sukses Desa Kembang Kerang Daya.

Sebelum kegiatan, seluruh produksi masih menggunakan pewarna kimia. Setelah mendapatkan edukasi dan pendampingan, penggunaan pewarna alami meningkat dari 0 persen menjadi 60 persen, sementara penggunaan pewarna sintetis menurun dari 100 persen menjadi 50 persen.

Adapun tahapan kegiatan pewarnaaan, dimulai dari penimbangan dedaunan sebagai pewarna alami, pencacahan dan proses blender dedaunan sebagai bahan pewarna alami sebelum dedaunan dimasak.

Selanjutnya, pembersihan benang sebelum diberikan pewarnaan alami dari dedaunan, pembuatan mordant untuk proses fiksasi dalam pewarnaan, proses pewarnaan benang. Terakhir, evaluasi tim pengabdian serta pemantauan proses pengeringan benang hasil pewarnaan alami sebelum proses pembuatan kain.

Tingkat pengetahuan pengrajin mengenai dampak lingkungan pewarna kimia juga meningkat dari 50 persen menjadi 70 persen, sedangkan kemampuan teknis mereka dalam membuat pewarna alami mencapai 80 persen," ujarnya.

Selain meningkatkan kesadaran lingkungan, tim PKM STTL Mataram juga membantu kelompok pengrajin menentukan Key Performance Indicator (KPI) untuk mengukur keberhasilan program.

Anggota Tim Pelaksana PKM STTL Mataram Bidarita Widiati mengatakan evaluasi dilakukan secara berkala dengan mengidentifikasi limbah yang dihasilkan, menetapkan sasaran kerja, serta memantau progres penggunaan pewarna alami.

“Tujuan utama kegiatannya, membantu para pengrajin menjaga kesehatan diri dan lingkungan, sekaligus meningkatkan kinerja usaha tenun mereka agar tetap berkelanjutan,” jelas dia.

Melalui penerapan pewarna alami berbasis dedaunan lokal, masyarakat Desa Kembang Kerang Daya kini mulai mempraktikkan produksi tenun sesek yang ramah lingkungan, tanpa mengorbankan nilai tradisi.

Inovasi ini tidak hanya membantu menjaga kebersihan air dan tanah, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam pelestarian budaya dan ekologi di Lotim.

Tim PKM STTL Mataram beserta Masyarakat mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat atas penyediaan Dana Pengabdian Dosen melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Anggaran 2025 dengan nomor kontrak utama 211/C3/DT.05.00/PM-BATCH II/2025 dan nomor kontrak turunan 3332/LL8/AL.04/2025 serta kepada pihak-pihak yang telah membantu pelaksanaan pengabdian tersebut.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Edukasi #Pengabdian kepada masyarakat #lingkungan #Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan #Sosialisasi #Pengrajin Tenun