LombokPost - Dunia pendidikan tengah menyoroti serius persoalan tulisan tangan siswa SMP. Di sejumlah sekolah, banyak ditemukan tulisan tangan siswa di bawah standar, bahkan sulit dibaca oleh diri sendiri maupun orang lain. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada motivasi belajar dan kreativitas siswa.
Plt Kepala SMPN 12 Mataram Abdul Kadir menegaskan, persoalan tulisan tangan anak SMP tidak bisa dianggap remeh.
Menurutnya, kemampuan menulis yang buruk membuat siswa enggan membaca ulang catatan sendiri sehingga proses belajar menjadi tidak optimal.
“Jika seorang anak bisa menulis dengan rapi dan jelas, dia akan lebih termotivasi untuk membaca dan memahami kembali apa yang ditulisnya. Karena itu, sekolah perlu segera membuat program latihan menulis,” ujar Abdul Kadir, Selasa (16/12).
Ia menekankan, peningkatan keterampilan menulis tangan siswa SMP tidak boleh hanya dibebankan kepada guru Bahasa Indonesia. Seluruh guru mata pelajaran harus terlibat aktif. Setidaknya, kata dia, perlu ada alokasi waktu 5 hingga 15 menit di setiap kelas untuk melatih siswa menulis dengan baik dan benar.
Selain itu, guru diminta lebih peduli dan teliti terhadap hasil tulisan siswa. Jika ditemukan tulisan tangan siswa buruk, guru wajib berkoordinasi dengan guru lain, pihak sekolah, hingga orang tua agar penanganannya dilakukan bersama, baik di sekolah maupun di rumah.
Untuk mendukung latihan, siswa dianjurkan menggunakan buku khusus seperti buku garis tiga. Media ini dinilai efektif membantu siswa membentuk huruf yang rapi, proporsional, dan mudah dibaca.
“Masalah yang sering muncul, tulisan anak-anak terlalu kecil, rapat, dan tidak rapi. Padahal tulisan ideal itu harus jelas dan sedikit lebih besar,” jelas Kadir.
Program latihan tulisan tangan juga perlu mencakup pengajaran dasar seperti penggunaan huruf kapital, huruf kecil, serta spasi antar kata yang benar. Menurut Abdul Kadir, keterampilan ini seharusnya sudah ditanamkan sejak Sekolah Dasar (SD) agar tidak menjadi masalah di jenjang SMP.
Ia mengakui, siswa dengan tulisan tangan yang bagus umumnya lebih percaya diri, gemar membaca, dan cenderung lebih kreatif. Karena itu, dibutuhkan kesabaran, ketelitian, dan keuletan guru untuk terus membimbing siswa yang masih kesulitan menulis.
“Program latihan menulis secara intensif ini penting untuk menyelamatkan keterampilan dasar siswa. Tujuannya bukan sekadar rapi, tapi juga untuk meningkatkan kreativitas dan kualitas belajar anak,” pungkasnya.
Editor : Rury Anjas Andita