LombokPost - Pemerintah Kota Mataram mengubah arah proyek sekolah tahun ini dengan menahan pembangunan fisik berskala besar.
Fokus diarahkan pada penyelesaian pekerjaan yang masih tersisa, terutama Ruang Kelas Baru (RKB) yang dinilai mendesak dan dapat diselesaikan dengan kemampuan APBD yang terbatas.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram Syarafudin menegaskan, tahun ini tidak banyak proyek fisik berskala besar. Sebagian besar pekerjaan juga tidak melalui lelang.
“Tahun ini fisiknya tidak banyak, tidak seperti tahun yang lalu, tidak ada lelang, yang tender ada tapi kecil-kecil,” ujar Syarafudin.
Kebijakan tersebut membuat pelaksanaan proyek sekolah di Kota Mataram berpeluang dimulai lebih awal. Pemerintah tidak lagi terjebak jadwal pengerjaan di akhir tahun seperti sebelumnya. Dengan pola ini, penyelesaian RKB yang tersisa dinilai lebih realistis.
Menurut Syaraf, prioritas utama APBD tahun ini adalah pemenuhan sarana yang masih kurang di sejumlah sekolah. Termasuk melanjutkan pembangunan RKB yang sempat tertunda atau membutuhkan tambahan ruang agar dapat berfungsi optimal.
Beberapa sekolah yang masuk daftar prioritas adalah SMPN 17 Mataram dan SDN 30 Cakranegara. Untuk SMPN 17 Mataram, pemerintah menargetkan penyelesaian dua RKB yang masih tersisa. Sementara itu, SDN 30 Cakranegara difokuskan pada penyelesaian satu ruang kelas tambahan agar fasilitas pembelajaran lebih lengkap.
“Kita selesaikan dulu masalahnya yang kecil-kecil, yang bisa kita selesaikan karena anggarannya juga terbatas sekarang melalui APBD,” tambah Syarafudin.
Di sisi lain, proyek besar seperti kebutuhan fisik di SMPN 10 Mataram kemungkinan belum dapat tersentuh tahun ini. Hal itu disebabkan kebutuhan anggaran yang dinilai sangat besar, sementara kemampuan APBD tahun ini terbatas.
Selain mengandalkan APBD, pemerintah daerah juga berharap dukungan dari pemerintah pusat melalui dana rehabilitasi. Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada sinkronisasi data sekolah melalui Dapodik.
“Kita berharap sekolah-sekolah ini dapat rehabilitasi dari pusat sesuai Dapodik kemarin. Mudah-mudahan dapat,” jelas Syarafudin.
Keputusan untuk tidak banyak melakukan lelang besar juga didasari evaluasi pelaksanaan proyek tahun lalu. Saat itu, proses lelang baru berjalan pada Agustus sehingga waktu pengerjaan menjadi sangat terbatas.
Akibatnya, kontraktor hanya memiliki waktu sekitar empat bulan untuk menyelesaikan pekerjaan, ditambah kendala cuaca di akhir tahun yang kerap memperlambat pembangunan RKB.
Dengan strategi baru yang lebih fokus pada proyek kecil dan penyelesaian pekerjaan tertunda, Syaraf berharap tidak ada lagi pekerjaan yang mangkrak atau dikerjakan secara terburu-buru.
“Harapan kita ya seperti itu, karena sekarang dananya juga kecil, tidak banyak, jadi kita maksimalkan yang ada,” pungkas Syarafudin.
Editor : Prihadi Zoldic