Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mangrove NTB Kritis, Unram Terapkan Rehabilitasi Berbasis Sains

Jay • Senin, 4 Mei 2026 | 15:04 WIB
MANGROVE: Tingkat keberhasilan tumbuh mangrove masih rendah di Desa Pemongkong, Lombok Timur.
MANGROVE: Tingkat keberhasilan tumbuh mangrove masih rendah di Desa Pemongkong, Lombok Timur.

 

LombokPost- Krisis mangrove NTB kini tidak lagi bisa dianggap sepele.

Dalam tiga dekade terakhir, luas mangrove di NTB menyusut drastis dari 49.174 hektare pada 1993 menjadi hanya 11.032 hektare pada 2024.

Kondisi ini menegaskan bahwa mangrove NTB sedang berada di titik kritis dan membutuhkan penanganan serius berbasis sains.

Padahal, mangrove memiliki peran vital sebagai pelindung alami pesisir.

Selain meredam abrasi, mangrove juga menjadi penyerap karbon dan habitat berbagai biota bernilai ekonomi.

Ketika mangrove NTB rusak, dampaknya langsung dirasakan masyarakat pesisir, mulai dari menurunnya hasil tangkapan hingga ancaman kerusakan lingkungan yang lebih luas.

Pemerintah Provinsi NTB sebenarnya telah menargetkan rehabilitasi seluas 3.090 hektare dalam RPJMD 2025-2029 untuk mendukung program FOLU Net Sink 2030.

Namun, di lapangan, upaya rehabilitasi mangrove NTB masih menghadapi berbagai kendala.

Baca Juga: Hardiknas 2026 Unram: Pendidikan Bermutu dan Inklusif Jadi Komitmen Bersama

Di Desa Pemongkong, Lombok Timur, misalnya, tingkat keberhasilan tumbuh mangrove masih rendah.

Serangan hama teritip, kondisi tanah yang terlalu padat, hingga residu pertanian dari aktivitas budidaya jagung menjadi faktor utama kegagalan.

Fakta ini memperlihatkan bahwa rehabilitasi mangrove NTB tidak cukup hanya dengan penanaman, tetapi harus berbasis pemahaman ilmiah.

Di sinilah peran Universitas Mataram (Unram) melalui Program Professor Berdampak mulai terlihat.

Dipimpin Prof. Dr. Sitti Hilyana, pendekatan rehabilitasi mangrove NTB kini diarahkan lebih presisi, tidak lagi seragam seperti sebelumnya.

Menurut Prof Hilyana, selama ini banyak program rehabilitasi gagal karena menggunakan pendekatan yang sama di semua lokasi. Padahal, setiap kawasan memiliki karakteristik yang berbeda. 

Baca Juga: Hapus Plt Kepala Sekolah Dipercepat, Kemendikdasmen Target Semua Definitif

“Setiap habitat punya persoalan sendiri. Jadi tidak bisa ditangani dengan cara yang sama,” tegasnya.

Bersama Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Dodokan Moyosari, tim Unram menyusun grand desain pengelolaan mangrove NTB berbasis data ilmiah.

Tim multidisiplin mengidentifikasi berbagai penyebab kerusakan, mulai dari gangguan hama, perubahan struktur tanah, tekanan aktivitas manusia, hingga ketidakseimbangan hidrologi.

Hasilnya adalah peta diagnosis yang menjadi dasar penanganan spesifik di setiap lokasi.

Dengan pendekatan ini, rehabilitasi mangrove NTB tidak lagi bersifat umum, melainkan disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Baca Juga: Wisuda ke-11, Undikma Cetak Lulusan Unggul

“Selama ini kita terlalu fokus menanam, tapi lupa memastikan lahannya siap,” ujar Prof. Hilyana.

Pendekatan presisi ini juga mencakup pemilihan jenis mangrove yang tepat, penentuan lokasi prioritas, hingga pengembangan kawasan berbasis ekowisata dan ekonomi masyarakat. Targetnya, tingkat keberhasilan rehabilitasi mangrove NTB bisa mencapai lebih dari 80 persen.

Selain meningkatkan efektivitas program, pendekatan ini juga bertujuan mengurangi potensi kerugian negara serta memastikan bantuan dari berbagai pihak, termasuk filantropi, tepat sasaran.

Baca Juga: 1.366 Sekolah di NTB Masih Dipimpin Plt Kepala Sekolah, Hambat Mutu Pendidikan

Lebih jauh, rehabilitasi mangrove NTB tidak hanya dilihat sebagai upaya lingkungan, tetapi juga strategi pembangunan berkelanjutan.

Mangrove kini mulai diposisikan sebagai aset ekonomi melalui pengembangan ekowisata dan penguatan ekonomi lokal masyarakat pesisir.

Langkah ini menjadi titik balik dalam pengelolaan lingkungan di NTB. Bahwa menyelamatkan mangrove NTB tidak cukup dengan pendekatan seremonial, tetapi membutuhkan data, riset, dan strategi jangka panjang.

Jika pendekatan ini dijalankan secara konsisten, maka masa depan pesisir NTB bisa kembali ditata. Mangrove NTB bukan hanya pulih, tetapi juga menjadi fondasi ekonomi dan ekologi yang berkelanjutan.

 

Editor : Kimda Farida
#Mangrove NTB kritis #Rehabilitasi mangrove NTB #Krisis mangrove NTB #Universitas Mataram mangrove #Program Professor Berdampak