LombokPost-Persoalan sistem informasi yang berjalan sendiri-sendiri di layanan kesehatan Biddokkes Polda NTB mulai dibenahi. Tim akademisi Universitas Mataram (Unram) menghadirkan AkuSehat, platform digital terpadu yang mengintegrasikan sejumlah proses pelayanan kesehatan dalam satu sistem.
Inovasi tersebut dikembangkan Kelompok Bidang Ilmu Kecerdasan Buatan dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik Unram. Tim dipimpin Dr. Ario Yudo Husodo, S.T., M.T., bersama Dr. Eng. Budi Irmawati, Herliana Rosika, M.Kom., Nadiyasari Agitha, M.MT., dan Ramaditia Dwiyansaputra, M.Eng. Pengembangan juga melibatkan mahasiswa lintas disiplin.
AkuSehat dirancang untuk mengatasi persoalan fragmentasi sistem informasi atau sistem yang sebelumnya berjalan secara terpisah.
Di Klinik Biddokkes Polda NTB, pengelolaan rekam medis pasien, informasi farmasi hingga proses yang berkaitan dengan BPJS Kesehatan sebelumnya menggunakan aplikasi berbeda. Di antaranya aplikasi internal, Tiker, dan P-Care.
Baca Juga: Lahan Sempit Bukan Alasan, Unram Kenalkan Biopori untuk Tekan Risiko Banjir di Kekalik Jaya
Akibatnya, petugas administrasi dan tenaga medis harus melakukan penginputan data berulang pada sejumlah platform.
“Penggunaan beberapa sistem yang terpisah membuat petugas harus melakukan pencatatan berulang. Kondisi ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan dalam proses input data,” jelas Dr. Ario Yudo Husodo.
Sebelum AkuSehat diterapkan, proses pendaftaran dan alur rekam medis membutuhkan waktu sekitar 10 menit per pasien.
Persoalan lainnya adalah belum tersedianya pemantauan data kesehatan secara real-time. Kondisi tersebut membuat pemetaan tren penyakit dan pemantauan stok obat tidak dapat dilakukan secara cepat.
“Karena itu, kami mencoba membangun sistem yang tidak hanya menjadi tempat penyimpanan data, tetapi mampu menghubungkan proses pelayanan sehingga informasi dapat digunakan secara lebih cepat,” ujarnya.
Dari sisi teknologi, AkuSehat dibangun menggunakan arsitektur client-server dengan pendekatan pengembangan Scrum.
Pada bagian frontend, sistem menggunakan framework ReactJS. Sementara backend dikembangkan menggunakan Express/NestJS dengan dukungan basis data MySQL/PostgreSQL.
Salah satu fitur utama yang dikembangkan adalah API Bridging P-Care BPJS Kesehatan. Melalui fitur tersebut, data rekam medis elektronik, termasuk proses peracikan dan distribusi obat di ruang farmasi, dapat disinkronisasikan dengan server BPJS Kesehatan.
Pengujian sistem menggunakan metode black-box menunjukkan endpoint BPJS memberikan respons 200 OK.
“Integrasi dengan P-Care menjadi salah satu bagian penting dalam sistem ini. Dengan bridging tersebut, proses pertukaran data dapat dilakukan secara lebih terintegrasi sehingga petugas tidak perlu berulang kali memasukkan data yang sama,” jelas Ario.
Baca Juga: Unram-Massey University Perkuat Kerja Sama Internasional, Bidik Food Safety hingga Student Mobility
Penerapan AkuSehat memberikan perubahan pada waktu pelayanan. Durasi registrasi pasien berhasil dipangkas sekitar 50 persen, dari sebelumnya 10 menit menjadi sekitar lima menit per pasien.
Sementara penginputan data ganda turun hingga lebih dari 80 persen. “Dari hasil implementasi, waktu registrasi pasien dapat dipangkas dari sekitar 10 menit menjadi lima menit. Input data ganda juga berkurang lebih dari 80 persen,” ungkapnya.
Tidak hanya menyederhanakan proses administrasi, AkuSehat juga dilengkapi dashboard interaktif.
Dashboard tersebut menyajikan data dalam bentuk bar chart, line chart dan pie chart. Informasi yang ditampilkan antara lain tren penyakit terbanyak, dinamika kunjungan pasien dan status ketersediaan obat di ruang farmasi.
Data yang tersaji secara real-time tersebut dapat membantu pengelola melihat kondisi pelayanan secara lebih cepat. Dengan begitu, informasi mengenai penyakit yang banyak ditangani maupun kondisi stok obat dapat dipantau tanpa harus mengumpulkan data dari sejumlah aplikasi berbeda.
“Harapannya, data yang tersaji secara real-time dapat membantu pimpinan maupun tenaga medis dalam melihat kondisi pelayanan dan mengambil keputusan berdasarkan data yang tersedia,” katanya.
Dari sisi penerimaan pengguna, hasil User Acceptance Test (UAT) menunjukkan skor kepuasan tenaga medis dan apoteker mencapai 4,5 dari skala 5. Sebanyak 66,7 persen pengguna tercatat menyatakan sangat puas terhadap penggunaan sistem tersebut.
Meski memberikan perubahan pada proses pelayanan, implementasi AkuSehat masih menghadapi sejumlah kendala.
Tim Unram mencatat keterbatasan unit komputer di ruang farmasi menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Selain itu, fluktuasi jaringan internet pada jam-jam sibuk juga dapat memengaruhi proses penggunaan sistem.
Kendala tersebut menjadi bagian dari evaluasi tim untuk pengembangan AkuSehat ke depan. “Kami melihat masih ada aspek infrastruktur yang perlu diperkuat, terutama ketersediaan perangkat komputer dan kestabilan jaringan. Ini menjadi bagian dari evaluasi untuk memastikan sistem dapat berjalan secara optimal,” jelas Ario.
Pengembangan AkuSehat tidak berhenti pada penerapan awal di Biddokkes Polda NTB. Unram telah menyiapkan roadmap pengembangan berikutnya. Salah satunya adalah mendorong integrasi AkuSehat dengan SatuSehat, platform nasional Kementerian Kesehatan RI.
Selain itu, tim juga menyiapkan pengembangan modul telemedicine internal serta aplikasi mobile. “Ke depan, kami ingin AkuSehat dapat terintegrasi dengan SatuSehat. Kami juga menyiapkan pengembangan telemedicine internal dan aplikasi mobile,” ujarnya.
Pengembangan tersebut sekaligus membuka peluang agar konsep AkuSehat dapat diterapkan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) lainnya.
Bagi Unram, inovasi tersebut merupakan bagian dari hilirisasi hasil riset perguruan tinggi. Teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada penelitian, tetapi diterapkan untuk menjawab kebutuhan pelayanan di lapangan.
Pengembangan AkuSehat juga dikaitkan dengan empat tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Pertama, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui integrasi rekam medis dan data farmasi untuk mendukung akses informasi kesehatan pasien secara cepat.
Kedua, SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur, melalui pengembangan infrastruktur digital untuk pelayanan publik.
Ketiga, SDG 16: Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh, melalui digitalisasi data kesehatan dalam mendukung tata kelola institusi.
Keempat, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kepolisian dan BPJS Kesehatan.
“Yang kami bangun bukan hanya aplikasi, tetapi sebuah ekosistem pelayanan yang menghubungkan kebutuhan tenaga medis, farmasi, administrasi dan sistem BPJS. Kami berharap inovasi ini bisa terus dikembangkan dan memberikan manfaat yang lebih luas,” tandas Ario.
Editor : Jelo JSumber : Lombok Post