LombokPost- Kepedulian PGRI Lombok Barat terhadap sesama kembali diwujudkan melalui PGRI Lobar Berbagi. Tak hanya membantu anggota yang sedang sakit, kegiatan sosial itu juga menyasar 346 anak yatim serta masyarakat yang terdampak bencana.
Ada tiga agenda utama dalam PGRI Lobar Berbagi, yakni bantuan untuk guru anggota PGRI yang mengalami sakit menahun atau sakit berat, santunan anak yatim se-Lombok Barat, serta penggalangan dana untuk korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) dan korban kebakaran Desa Adat Sade, Lombok Tengah. Enam guru anggota PGRI Lobar yang mengalami sakit menahun dan sakit berat masing-masing mendapat bantuan Rp 500 ribu.
Bantuan itu tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan seluruh kebutuhan guru yang sedang menghadapi persoalan kesehatan. Namun, bantuan itu menjadi bentuk perhatian dan dukungan moral dari keluarga besar PGRI Lombok Barat.
Baca Juga: PGRI Mataram Galang Donasi Gempa NTT Rp 202,91 Juta
Ketua PGRI Kabupaten Lombok Barat Akhmad Sujai menegaskan solidaritas terhadap anggota menjadi bagian penting dalam kehidupan organisasi.
“Ketika seorang guru sedang sakit, keluarga besar PGRI tidak boleh membiarkannya berjuang sendirian,” ujar Sujai.
Kepedulian PGRI Lobar Berbagi kemudian menyasar anak-anak yatim di seluruh Kabupaten Lombok Barat. Sebanyak 346 anak yatim se-Lombok Barat menerima santunan masing-masing Rp 100 ribu. Selain uang santunan, para penerima juga mendapatkan alat tulis.
Baca Juga: Lomba Dulang Penamat MAN 1 Mataram Libatkan BBPOM
Menurut Sujai, santunan anak yatim itu bukan hanya persoalan nominal. Kegiatan itu menjadi bentuk kasih sayang dan perhatian PGRI Lombok Barat kepada anak-anak yang membutuhkan dukungan. Sujai berharap santunan itu ikut memberikan semangat kepada anak-anak yatim untuk terus belajar dan berkembang. Mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, berprestasi, berakhlak mulia, serta mampu menjadi penerus bangsa.
Semangat PGRI Lombok Barat Berbagi tidak berhenti di wilayah Lobar. Keluarga besar PGRI Lombok Barat juga menggalang dana untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di NTT dan Lombok Tengah. Dari penggalangan dana itu terkumpul Rp 98.099.500.
Dana itu kemudian dibagi untuk dua kebutuhan kemanusiaan. Sebesar Rp 50 juta disalurkan untuk korban gempa NTT. Sementara sisanya diberikan kepada korban kebakaran Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah.
Baca Juga: Desa Adat Sade Dibangun Lagi, Unram Siapkan Masterplan Pemulihan Pascakebakaran
Gerakan PGRI Lobar Berbagi menunjukkan bahwa kepedulian guru tidak hanya hadir di ruang kelas. Ketika masyarakat membutuhkan bantuan, guru juga ikut mengambil bagian.
Sujai mengatakan PGRI Lobar Berbagi menjadi bukti bahwa kekuatan organisasi tidak hanya diukur dari jumlah anggota maupun banyaknya program kerja. Lebih dari itu, organisasi harus mampu memberikan manfaat bagi anggota dan masyarakat.
Ketika ada guru sakit, PGRI harus hadir. Ketika ada anak yatim membutuhkan perhatian, PGRI memberikan santunan. Begitu pula saat masyarakat tertimpa bencana, PGRI ikut membantu.
“PGRI yang kuat, guru yang hebat, bermartabat, dan peduli terhadap sesama,” katanya.
Baca Juga: Mahasiswa Jerman PPL di SMAN 3 Mataram, Empat Bulan Mengajar hingga Belajar Budaya Indonesia
Dia berharap PGRI Lobar Berbagi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Program sosial itu diharapkan terus berjalan dan menjadi budaya positif di lingkungan keluarga besar PGRI Lombok Barat.
“Guru tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberikan teladan tentang kepedulian dan kemanusiaan,” ujarnya.
Wakil Ketua I PGRI Provinsi NTB Lalu Kaharudin turut memberikan apresiasi terhadap PGRI Lobar Berbagi. Dia mengapresiasi pengurus PGRI Lombok Barat yang telah menginisiasi kegiatan itu.
Menurutnya, kegiatan PGRI Lobar Berbagi menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian organisasi terhadap anggota sekaligus masyarakat.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post