LombokPost- Keselamatan siswa menjadi perhatian utama SMAN 1 Gunungsari. Sekolah kini mempercepat rehabilitasi ruang kelas setelah konstruksi atap beton dinilai berisiko karena kerangka penopangnya sudah lapuk dan mengalami kemiringan.
Pembongkaran bangunan telah dimulai sejak awal September. Rehabilitasi ruang kelas SMAN 1 Gunungsari itu ditargetkan rampung pada Desember mendatang sehingga kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat kembali berlangsung secara normal dan kondusif.
Rekomendasi rehabilitasi itu mengacu pada hasil asesmen kelayakan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB. Dalam asesmen itu, konstruksi atap beton direkomendasikan untuk segera diganti.
Baca Juga: SDN 13 Mataram Andalkan Tutor Sebaya, Atasi Keterbatasan Guru
Kepala SMAN 1 Gunungsari Musyrifin mengatakan, kondisi kerangka penopang atap yang menggunakan material kayu sudah cukup tua. Sebagian konstruksi bahkan telah mengalami pelapukan dan kemiringan.
“Kerangka atap beton yang sebelumnya ditopang kayu lapuk sangat riskan. Rekomendasi PUPR adalah menggantinya dengan baja ringan demi keamanan jangka panjang,” ujar Musyrifin, Selasa (8/9).
Musyrifin menjelaskan, rehabilitasi SMAN 1 Gunungsari mencakup 14 ruang kelas. Selain itu, terdapat satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan satu ruang administrasi yang turut diperbaiki. Dengan demikian, total terdapat 16 ruangan yang masuk dalam proyek rehabilitasi. Perbaikan itu diharapkan dapat meningkatkan keamanan sekaligus kenyamanan siswa dan tenaga pendidik di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Mahasiswa Jerman PPL di SMAN 3 Mataram, Siswa Dapat Pengalaman Global
Sebenarnya, kata Musyrifin, persoalan kekurangan ruang kelas di SMAN 1 Gunungsari sudah cukup lama. Berdasarkan analisis data pokok pendidikan (Dapodik), sekolah memang membutuhkan tambahan ruang untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Namun, tindak lanjut rehabilitasi baru bergerak lebih cepat setelah dilakukan asesmen fisik oleh PUPR NTB. Hasil asesmen itu menjadi dasar untuk memperkuat usulan perbaikan bangunan sekolah. Sementara itu, usulan pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) belum terealisasi tahun ini.
“Kami berharap pembangunan RKB dapat direalisasikan pada tahun depan,” harapnya.
Pelaksanaan rehabilitasi ruang kelas SMAN 1 Gunungsari membuat sekolah harus mencari solusi agar kegiatan belajar mengajar tidak berhenti. Sejumlah fasilitas sekolah akhirnya dialihfungsikan menjadi ruang belajar sementara, di antaranya laboratorium komputer, ruang podcast, musala, hingga ruang terbuka di sekitar tempat ibadah.
Baca Juga: Akademisi dari Tiga Negara Bahas AI dan Pendidikan di ICGIESTEC UMMAT
Ruang-ruang itu disekat dan ditata sedemikian rupa agar dapat digunakan sebagai kelas darurat. Langkah itu dilakukan supaya seluruh siswa tetap bisa mengikuti pembelajaran selama proses rehabilitasi ruang kelas berlangsung.
“Untuk sementara waktu, anak-anak belajar di ruang laboratorium, musala, dan ruang terbuka lainnya yang kami sekat menjadi kelas sementara,” jelas Musyrifin.
Menurutnya, kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah. Namun, pihaknya berupaya memastikan hak siswa untuk mendapatkan pembelajaran tetap terpenuhi meskipun sejumlah ruang kelas sedang dibongkar.
Baca Juga: Unram dan Universität Kassel Perkuat Kerja Sama Riset
Musyrifin berharap proyek rehabilitasi SMAN 1 Gunungsari dapat diselesaikan sesuai rencana kerja, yakni pada Desember mendatang. Dengan konstruksi baru itu, ruang kelas diharapkan lebih aman dan nyaman digunakan dalam jangka panjang. Persiapan pengerjaan juga telah dilakukan pihak sekolah, mulai koordinasi, komunikasi dengan komite sekolah, hingga pembentukan tim pelaksana sebelum pekerjaan fisik dimulai.
"Kami sebagian besar mempekerjakan warga sekitar sekolah untuk rehabilitasi ini," pungkasnya.
Editor : Pujo NugrohoSumber : Lombok Post