Tersisa seminggu lagi bagi para kandidat calon ketua melancarkan lobi-lobi politik. Waktu ini relatif pendek bagi para kandidat. Sehingga mereka harus memaksimalkan seluruh kemampuan politiknya untuk merebut panggung Musda.
Sejauh ini dua kandidat yang berpeluang masih untuk HM Suhaili dan penantang H Ahyar Abduh. Dari informasi yang diserap Lombok Post masing-masing belum ada yang mau mengalah.
Semua masih percaya diri dan menganggap diri pantas menakhodai Golkar NTB. “Pembukaanya tanggal 22 Juli,” terang Isvie.
Ketua DPRD NTB itu enggan membahas persaingan kandidat berebut kursi ketua. Semua kader yang memenuhi syarat administratif dinilai punya peluang sama menakhodai Golkar NTB.
Untuk tempat pelaksanaan Musda, belum diputuskan panitia. “Nanti kami undang khusus (untuk konferensi pers),” pungkasnya.
Pengamat politik UIN Mataram Ihsan Hamid melihat peluang kandidat di luar Suhaili dan Ahyar untuk tampil mengecil. Hal ini karena dukungan telah terpolarisasi ke dua tokoh poltisi gaek itu.
Internal Golkar lebih riuh membicarakan keduanya. Lalu melupakan Sari Yuliati yang sebenarnya masih punya kesempatan. “Di atas kertas semua masih punya peluang,” terangnya.
Namun dengung persaingan di balik layar tidak bisa diabaikan. Salah satunya peluang DPP turun tangan menertibkan perbedaan di internal Golkar NTB. “Ingat yang punya partai itu pusat bukan daerah,” tegasnya.
DPP bisa mengambil langkah tegas untuk figur yang dikehendaki menakhodai Golkar NTB. Tetapi sebelum ini para kandidat diberi kesempatan bermusyarah dengan sebaik-baiknya. “Figur yang diinginkan bisa Ahyar, Suhaili, Sari, Isvie, atau bisa kader lain,” ulasnya.
Dalam satu minggu ke depan para kandidat diberi ruang bermufakat. Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto terlihat sangat ingin membangun tradisi yang tidak gaduh dalam pemilihan ketua.
Salah satunya dengan mendorong agar panggung Munas dan Musda tidak lagi ajang voting tetapi aklamasi. “Atau dalam istilah mereka aklamasi itu disamakan dengan musyawarah mufakat,” ulasnya.
Bila ada pihak-pihak yang mencoba melawan dan menggiring ke voting, DPP bisa mengambil langkah menertibkan kader. “Tetapi saya kira secara poin semua masih fifty-fifty,” tegasnya.
Walaupun voting bukan hal mustahil di Golkar. Seperti dalam Munaslub DPD Partai Golkar Kabupaten Tanggamus, Lampung. Tetapi dari perbandingan hampir semua Musda diselesaikan melalui panggung aklamasi. (zad/r2)
Editor : Administrator