Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Calon Ketua NasDem NTB: Sukiman, Rumaksi atau Fauzan?

Administrator • Selasa, 6 Desember 2022 | 09:31 WIB
HM Sukiman Azmy. (Foto: Zad/Lombok Post)
HM Sukiman Azmy. (Foto: Zad/Lombok Post)
MATARAM-DPW Partai NasDem NTB saat ini tengah dipimpin Willy Aditya. Ia merupakan unsur pengurus di pusat yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPP NasDem. Keberadaannya di DPW NasDem NTB diperkirakan sementara sampai ditemukan figur daerah yang tepat menakhodai NasDem menggantikan Hj Sitti Rohmi Djalillah yang telah undur diri.

Pengamat politik Dr Ihsan Hamid membaca, NasDem masih sedang mencari figur potensial dari daerah. Hal ini selaras dengan pernyataan Ketua Teritorial Pemenangan Pemilu Bali, NTB, NTT Julie Laiskodat yang mengatakan akan menggelar Open Bidding. “Jadi sangat terbuka peluang figur daerah memimpin,” katanya pada Lombok Post, kemarin (5/12).

Sumber yang terpercaya Lombok Post menyebutkan bahwa Julie Laiskodat telah bertemu dengan salah satu tokoh kunci politik di NTB yakni Farid Amir. Tujuan pertemuan itu diperkirakan, meminta pertimbangan dan masukan tiga nama terbaik untuk disodorkan ke Ketua Umum NasDem Surya Paloh.

Sejauh ini mengemuka lima nama yang tengah dipertimbangkan. Antara lain dua tokoh internal Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid dan Wakil Bupati Lombok Timur H Rumaksi. Sedangkan tiga tokoh eksternal antara lain Bupati Lombok Timur HM Sukiman Azmy, Mantan Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT, dan Mantan Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh.

Dari lima nama itu, Ihsan Hamid lebih condong melihat peluang H Sukiman Azmy yang paling besar. Ia lantas memaparkan beberapa alasannya. “Pertama, saya melihat NasDem kali ini sedang sangat hati-hati dalam memilih pengganti, terkesan tidak ingin terperosok ke lubang yang sama,” ujarnya.

Isyarat itu terlihat dari langkah menunjuk ‘orang DPP’ menakhodai NasDem NTB. Bukan orang daerah yang notabene lebih mengenal situasi politik NasDem di NTB. Padahal dari sisi sumber daya, NasDem memiliki figur seperti Fauzan Khalid dan Rumaksi.

“Secara stok kader, ada Fauzan Khalid dan Rumaksi, tapi mengapa tidak langsung dipilih salah satunya, tentu ini menjadi tanda tanya yang besar,” ujar Doktor jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Kedua, adanya pertemuan antara Julie Laiskodat degan Farid Amir. Hal itu menurutnya dapat ditafsirkan sebagai keinginan NasDem mencari figur yang lebih dari sekadar dapat memimpin. Tetapi juga, mengubah polarisasi politik NTB yang notabene masih didominasi kubu TGB HM Zainul Majdi yang dianggap memiliki peran kuat dalam menentukan arah Pemilihan Gubernur (Pilgub).

“Jadi tidak bisa juga dikatakan sebagai basa-basi politik (pertemuan Julie dan Farid),” ujarnya.

Ketiga, tidak bisa diabaikan psikologis partai NasDem yang kemungkinan besar kecewa berat karena sejumlah manuver politik TGB. Mulai dari keputusan TGB urung gabung dengan NasDem dan langkahnya berlabuh ke Perindo. Di mana Ketua Umum Hary Tanoesoedibjo, berada di seberang politik Surya Paloh.

“Maka kalau tadi saya katakan NasDem tidak ingin terperosok di lubang yang sama, juga sekaligus menginginkan keputusan politik berdampak pada kualitas politik yang dapat mengubah peta politik di NTB, harus diingat NasDem di NTB saat ini adalah partai besar,” ulasnya.

Itulah mengapa NasDem sangat besar peluang memilih Sukiman. Terlebih bupati Lombok Timur itu memiliki kriteria yang diinginkan NasDem.

Antara lain, Sukiman memimpin kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di NTB. Secara basis dukungan, massa Sukiman berbeda dengan TGB. Bahkan dalam strategi politik, Sukiman dianggap mampu merangkul sejumlah basis suara miliki NWDI.

“Bisa dibilang Sukiman adalah anomali politik TGB, ia terbukti mampu mengalahkan TGB di Pilkada Lombok Timur 2018. Begitu juga Sukiman sukses membawa adiknya Sukisman sebagai anggota DPD RI sedangkan Irzani yang merupakan representasi politik NWDI gagal lolos,” ujarnya.

Selanjutnya, ada kesamaan Sukiman dan NasDem di posisi yang dibuat kecewa oleh politik TGB. “Artinya apa, dari sisi psikologis politik NasDem dan Sukiman bertemu,” ujarnya.

NasDem sebagai pihak yang hari ini kecewa dapat mempercayakan Sukiman membalik keadaan. Di luar itu, Ihsan belum melihat ada yang mampu menjawab isyarat keinginan NasDem sejauh ini.

“Karena kalau bicara Fauzan, ada bau kekuasaan dan relasi dengan NWDI,” ujarnya.

Hal yang sama juga dengan Rumaksi yang dianggap dekat NWDI. Lalu bagaimana dengan Suhaili dan Ahyar? Pengajar Ilmu Politik di UIN Mataram itu melihat peluang mereka juga terbuka. Hanya saja tidak sebesar Sukiman.

“Sukiman punya peluang besar untuk menandingi dominasi politik petahana (Zul-Rohmi) di Pilgub 2024,” ujarnya.

Namun peluang besar Sukiman menakhodai NasDem NTB diprediksi akan mendapat resistensi tak kalah hebat. Ia mencontohkan dengan bagaimana kencangnya operasi menggagalkan Sukiman menakhodai Demokrat NTB. “Jadi resistensinya saya kira juga tidak bisa diabaikan, karena kalau Sukiman jadi ketua DPW NasDem NTB, tentu banyak pihak yang tidak nyaman terutama yang ada di lingkaran kekuasaan,” lugasnya.

Sementara itu, Sukiman menanggapi normatif peluangnya terpilih sebagai Ketua DPW Partai NasDem NTB. Dikatakannya, ia memahami posisinya sebagai figur nonkader yang secara kans lebih kecil dibanding figur internal. “Saya memahami posisi sebagai eksternal partai di tengah banyaknya tokoh internal yang layak untuk diserahi amanah oleh partai. Pengalaman menunjukkan ketika dulu berjuang di Partai Demokrat, kader internal lebih diutamakan daripada eksternal, tapi jika Allah menakdirkan tentu kita akan bekerja secara optimal untuk menjalankan tugas yang diemban,” katanya melalui pesan singkat. (zad/r2)

  Editor : Administrator
#Fauzan Khalid #H rumaksi #HM Sukiman Azmy