“Innalillahiwainnailahirojiun!” kata Rocky Gerung mengundang gelak tawa peserta diskusi publik.
Kata itu ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan moderator M Riadussyah. Ketua Metajuridika itu meminta kepada tiga narasumber untuk memberikan satu kalimat tentang pandangannya pada masa depan demokrasi Indonesia.
Rocky, dengan gaya khasnya memilih menjawab dengan satu kata. Diawal diskusi, ia menegaskan jika demokrasi telah mati.
Jika Rocky menjawab dengan innalillahi, pakar hukum tata negara Bivitri Susanti mengatakan ‘Suram’. Sedangkan narasumber lainnya dari Metajuridika Widodo Dwi Putro mengatakan ‘sesuram masa depan kita’.
Riadussyah kemudian menjadikan jawaban dari setiap narasumber sebagai bahan untuk melanjutkan diskusi tersebut. Diskusi tersebut berlangsung santai. Sebagian besar peserta tenggelam untuk menyepakati narasi-narasi yang disampaikan narasumber tentang berbagai persoalan demokrasi di Indonesia saat ini.
Beberapa di antaranya mengenai keputusan MK, politik dinasti, kartel partai politik yang menentukan pemimpin, dan sejumlah persoalan demokrasi lainnya. Secara panjang lebar Widodo menyampaikan sejumlah teori demokrasi yang dalam pandangannya akan mampu ideal untuk menjawab tantangan dan persoalan demokrasi saat ini.
Sementara itu Bivitri Susanti secara tegas mengajak peserta diskusi untuk tidak diam melihat persoalan yang ada. “Kita harus terus menyuarakan persoalan-persoalan yang ada saat ini. Kita harus memberikan perlawanan dan tidak tinggal diam,” ajak Bivitri.
Diskusi yang berlangsung selama dua setengah jam itu direspon oleh sejumlah pertanyaan yang datang dari peserta. Beberapa di antaranya menanyakan mengenai solusi yang ditawarkan narasumber atas persoalan demokrasi saat ini. (*)
Editor : Redaksi Lombok Post