Mantan Dubes RI untuk Turki itu menerangkan pentingnya membangun pariwisata kolabaratif di NTB.
“Semua orang harus ikut serta di dalam pembangunan pariwisata itu sendiri. Tuan guru punya perannya sendiri, ketua RT punya perannya sendiri, wartawan punya perannya sendiri. Dan itu tidak ada peran yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua harus punya peran yang sama besarnya, tetapi segmennya yang berbeda-beda,” jelas Iqbal.
Ekosistem pariwisata di NTB menurut Iqbal belum terpetakan. Ia mengibaratkan pariwisata di NTB seperti sebuah tim sepak bola yang belum memiliki pelatihnya. Sehingga tidak ada yang memastikan pembagian peran seluruh pihak yang semestinya bersama-sama tanpa terkecuali membangun pariwisata tersebut di daerahnya.
Sementara selain memastikan ekosistem pariwisata yang menerapkan kolaboratif tourism, sistem pembangunan pariwisata yang paling tepat diterapkan di NTB hari ini adalah quality tourism atau pariwisata berbasis kualitas.
“Artinya kualitas itu kualitas yang datang. Jangan kita jual murah. Lombok dan pulau Sumbawa terlalu indah untuk dijual murah. Ndak usah banyak-banyak yang datang. Tapi yang datang yang berduit banyak. Tinggalnya lama. Ndak bawa drugs (obat-obatan terlarang,red) dan seks bebas. Apalagi kita punya histori, budaya, dan agama yang kental. Pada akhirnya kita ingin dihormati di rumah kita sendiri,” jelasnya.
Iqbal menekankan, tren di dunia saat ini mengarah ke pariwisata berbasis kualitas. “Bukan lagi quantity tourism yang fokus pada seberapa banyak kunjungan wisatawan,” sambungnya. (tih/r2)
Editor : Redaksi Lombok Post