Sayangnya, kerja parpol di Pilkada NTB 2024 terkesan redup redam dibanding geliat relawan dan para tokoh masyarakat dan agama. Benarkah parpol sudah kehabisan ‘tenaga’ di pertarungan Pileg 2024?
Pengamat politik NTB Dr Alfisyahrin mengatakan memang tidak banyak yang bisa diharapkan dari mesin parpol dalam kontestasi Pilkada. Sehingga, membaca peluang menang ketiga paslon sama sekali tidak bisa dilihat dari kurus dan gemuknya koalisi partai pengusung mereka.
Berbicara koalisi partai pendukung tiga paslon di Pilgub NTB 2024, jika mengacu pada kekuatan suara partai dan anggota DPRD pada Pileg 2024, maka pasangan nomor urut 3 Lalu Muhammad Iqbal-Indah Dhamayanti Putri (Iqbal-Dinda) sudah bisa dikatakan menang di atas kertas.
Jumlah dukungan Iqbal-Dinda paling banyak dari dua paslon lainnya sebesar 1.637.928 suara atau 53,06 persen. Dukungan tersebut diperoleh dari sembilan parpol peserta pemilu yakni partai Golkar, PAN, Gerindra, PPP, Hanura, Gelora, PSI, PBB, dan Garuda. Total, ada sekitar 34 anggota dewan dari partai pengusung Iqbal-Dinda yang kini duduk di Udayana.
Di urutan suara partai koalisi terbanyak ada paslon nomor urut 2 Zulkieflimansyah-Suhaili FT (Zul-Uhek) dengan jumlah dukungan 823.606 suara atau 26,68 persen dari total suara sah pada Pileg DPRD NTB 2024 sebanyak 3.086.799 suara. Dukungan untuk Zul-Uhel didapatkan dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Nasdem, dan partai Demokrat.
Sementara pasangan nomor urut 1 Siti Rohmi Djalilah-Musyafirin (Rohmi-Firin) juga memiliki jumlah dukungan 602.321 suara atau 19,51 persen dari total suara sah
sebanyak 3.086.799 suara. Jumlah tersebut didapatkan dari Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB), PDIP, Perindo, dan partai Ummat.
“Melihat format koalisi, terutama di Iqbal-Dinda, superioritas parpol pengusung sangat memberikan keuntungan. Namun ada gejala baru khususnya di Pilkada, di mana partai politik tidak sepenuhnya absolut memberikan jaminan kemenangan pada calon yang diusung,” terang Alfisyahrin, kemarin (13/10).
Ia menerangkan sejumlah faktor yang membuat lemahnya kekuatan mesin parpol di Pilkada. Menurut Alfisyahrin, apa yang diinstrusikkan oleh ketua partai belum tentu sepenuhnya didengar oleh masyarakat sebagai pemilik kedaulatan. Belajar dari Pilkada-pilkada sebelumnya, selalu tidak ditemukan linieritas antara kekuatan parpol pengusung dengan paslon yang diusung.
Hal itu disebabkan juga oleh adanya relasi pragmatis di tengah masyarakat yang mmbatalkan relasi kuasa parpol atau kader dengan konstituennya. Inilah yang kerap menyebabkan mesin partai gagal mendongkrak suara paslon yang diusung di lapangan.
“Saat ini demokrasi kita sudah fokus pada persoalan figuritas, kekuatan personalitas, pengaruh calon secara personal. Hal itu yang kemudian memberikan semacam kekuatan tertentu dan sangat dapat mengalahkan kekuatan calon yang memiliki dukungan koalisi parpol besar,” paparnya.
Keraguan atas mesin parpol di Pilgub NTB juga mengarah pada kecenderungan partai politik yang bekerja dengan mengutamakan arus kepentingan. Di mana, kerja-kerja yang dilakukan tidak akan efisien jika tidak ditopang dengan logistik atau finansial yang memadai.
“Jadi saya kira, akan cukup sulit mengharapkan komitmen dan loyalitas para kader yang sudah menghabiskan banyak logistik di Pileg 2024. Mereka telah bertarung habis-habisan untuk mendapatkan mandat dari masyarakat. Sehingga tidak akan mudah bagi Iqbal-Dinda untuk memaksimalkan 1,6 juta suara itu,” jelasnya.
Jika memiliki cukup kapasitas, Iqbal-Dinda dinilai akan mendapatkan 40 sampai 50 persen dari total suara parpol koalisi yang mencapai 1,6 juta. Namun hal itu tentu tidak mudah mengingat Lalu Iqbal sebagai pendatang baru di dunia politik.
“Kalau memang Lalu Iqbal punya kapasitas untuk memberikan keyakinan dan menggaransi bahwa pertarungan ini akan dimenangkan olehnya. Namun jika tidak, saya pikir sulit. Karena dua rivalnya ini adalah petahana yang memiliki pengalaman dan basis masa militan,” jelas Alfisyahrin.
Parpol Koalisi Pendukung Iqbal-Dinda Targetkan Kemenangan di Atas 50 Persen
Sementara itu, Sekretaris Tim Pemenangan Parpol Koalisi paslon nomor urut 3 Iqbal-Dinda Sudirsah Sujanto memastikan jika pihaknya kian solid untuk menjemput kemenangan. Hal itu dilakukan dengan menggelar rapat konsolidasi dalam memastikan semua anggota DPRD NTB dari partai koalisi pendukung Iqbal-Dinda bergerak masif.
“Kita pastikan semua turun tanpa henti dalam kurun waktu yang tersisa. Menyapa masyarakat, sambil membawa atribut Iqbal-Dinda. Tentu dengan tidak melanggar aturan. Mengurus STTP, melakukan cuti kampanye, dan aturan lainnya,” terang Sudirsah.
Ia juga meyakini 1,6 juta suara parpol koalisi akan bisa diraih. Politisi partai Gerindra itu menerangkan, di atas kertas Iqbal-Dinda sudah meraih kemenangan. “Tapi kita tidak ingin hanya menang di atas kertas. Kami menargetkan kemenangan di atas 50 persen. Itu target partai koalisi,” jelasnya.
Adapun terkait redupnya kerja-kerja parpol koalisi pemenangan Iqbal-Dinda disebut sebagai salah satu bagian dari strategi. Di mana tidak semua aktivitas kampanye yang dilakukan parpol koalisi dilakukan secara terbuka dan dipublikasikan di media massa.
“Jadi pergerakan kami itu, memang tidak kamu terlalu ekspose. Bagian dari pada strategi kami,” pungkasnya. (tih/r2)
Editor : Redaksi Lombok Post