LombokPost – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi melantik Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi NTB periode 2025-2030, Minggu lalu (14/9).
Acara pelantikan di Auditorium UIN Mataram itu mengusung tema "Melanjutkan Pengabdian, Menggapai Bukti Bakti".
Menariknya, komposisi pengurus organisasi nahdliyin itu bertabur banyak politisi. Mulai dari anggota dewan hingga kepala daerah.
Dari nama-nama pengurus yang diterima Lombok Post, total ada tujuh anggota DPRD NTB masuk dalam jajaran pengurus.
Mereka ada Indra Jaya Usman, Suhaimi, Lalu Wirajaya, Muzihir, Lalu Pelita Putra, Akhdiansyah, dan Mohammad Akri.
"Alhamdulillah saya masuk dalam pengurus PWNU NTB," kata Lalu Pelita Putra, Senin (15/9).
Disampaikan, dirinya merasa terpanggil untuk membesarkan NU di NTB. Sehingga masuk dalam struktur pengurus.
Dia menampik anggapan kalau dirinya masuk pengurus PWNU karena faktor politisi. Misalnya ingin menggaet suara nahdliyin dalam pemilu atau pileg.
"Sebagai warga NU, saya hanya ingin berkhidmat membesarkan jemaah NU," ujar politisi PKB itu.
Hal senada disampaikan Mohammad Akri. Dikatakan, dirinya masuk menjadi pengurus PWNU NTB sangat jauh dari motif politik praktis.
Misalnya menjadikan NU sebagai kendaraan politik demi menggaet suara dalam pemilu.
"Sama sekali tidak ada unsur politis. Tentu sebagai warga NU saya terpanggil untuk mengabdi memberi kontribusi untuk kebesaran NU," cetus politisi PPP itu.
Tujuh anggota DPRD NTB itu semuanya duduk sebagai anggota A'wan.
Selain legislator Udayana, ada juga nama kepala daerah.
Di antaranya Wakil Wali Kota Mataram TGH Mujiburrahman, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini serta Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri.
Mereka semua duduk di jajaran kursi A'wan. Diketahui, A'wan adalah istilah Arab yang berarti anggota atau pembantu.
Nah, dalam konteks struktur pengurus Nahdlatul Ulama (NU), A'wan merujuk pada anggota Syuriyah yang bertugas membantu Rais dan memberikan masukan kepada Syuriyah.
Sehingga A'wan merupakan bagian dari pengurus Syuriyah NU.
Bahkan, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal juga masuk dalam struktur pengurus.
Dia menjadi salah satu dari 28 pengurus Mustasyar PWNU NTB periode 2025-2030.
Miq Iqbal menceritakan nasihat yang pernah ia terima dari seorang ulama kharismatik, TGH Datok Bagu atau TGH Turmudzi Badaruddin saat menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2024.
"Datok berpesan, ‘Titip NU’. Saya jawab, seharusnya bukan NU yang dititip ke saya, tapi saya yang dititipkan ke NU," ungkap Iqbal disambut tepuk tangan hadirin.
Menurutnya, NU sebagai organisasi Islam terbesar di dunia telah lama mendunia. Ia menyinggung sejarah kelahiran NU pada 1926 yang tidak lepas dari runtuhnya Kesultanan Ottoman.
Kala itu para ulama menyadari bahwa penjaga tradisi ahlussunnah wal jamaah sudah runtuh, sehingga NU berdiri untuk menjaga diri dan tradisi umat.
"Karena itu, saya titipkan diri saya kepada NU agar bisa bersama-sama menjaga kampung halaman tercinta," tutur Iqbal.
Ia juga mengutip pesan pendiri NU KH Hasyim Asy’ari yang menyebut bahwa siapa saja yang menjaga bangsa dan agamanya, maka Allah akan menjaganya.
"Dengan niat memelihara umat, bangsa, agama, dan kampung halaman ini, saya yakin Allah akan memudahkan langkah kita semua. Sehingga saya ingin diterima menjadi bagian utuh dari keluarga besar NU NTB dan bergandengan tangan dalam membangun daerah," pungkas Miq Iqbal. (mar/r2)
Editor : Kimda Farida