LombokPost – Fenomena nasional terkait perpindahan atau migrasi kader parpol juga terjadi di NTB. PSI yang awalnya dipandang sebagai pendatang baru, kini seolah menjadi magnet tempat berlabuh sejumlah tokoh atau mantan kader partai lain.
Hal itu terlihat pada momen pengukuhan pengurus DPW PSI NTB dan DPD PSI kabupaten/kota se-NTB Sabtu lalu (2/5).
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep secara simbolis memasangkan jaket PSI kepada sejumlah tokoh. Mereka adalah mantan kader senior dari PDIP, PPP, NasDem, dan Partai Demokrat. Selain tokoh parpol, ada juga tokoh masyarakat.
Baca Juga: Lantik Pengurus PSI se-NTB, Kaesang Minta Kader Perjuangkan Kesejahteraan Rakyat NTB
Menariknya, PDIP menjadi partai yang eks kadernya paling banyak masuk PSI. Setidaknya ada tiga mantan pentolan partai moncong putih yang pindah ke partai gajah.
Paling utama adalah mantan sekretaris DPD PDIP NTB Lalu Budi Suryata yang didapuk sebagai ketua DPW PSI NTB.
Ada juga mantan anggota DPRD NTB dari PDIP I Gede Wenten. Ia didaulat sebagai Dewan Pembina DPW PSI NTB. Selain itu, mantan ketua DPC PDIP Lombok Barat (Lobar) Adnan mencuat sebagai ketua DPD PSI Lobar.
Baca Juga: Adnan, Mantan Dewan Lobar dari PDIP Resmi Pimpin PSI Lobar
"Dengan masuknya tokoh-tokoh ini, tentu akan bisa memberi sokongan elektoral bagi PSI di NTB," kata Ketua Pusat Studi Demokrasi dan Kebijakan Publik (Pusdek) UIN Mataram Dr Agus, Senin (4/5).
Tokoh lainnya yang memperkuat PSI adalah mantan anggota DPRD NTB TGH Hazmi Hamzar. Ia adalah tokoh senior di PPP. Juga ada mantan sekretaris DPW NasDem NTB Multazam serta mantan anggota DPRD NTB empat periode dari Partai Demokrat Rais Ishak.
Tokoh lain yang dikenalkan masuk ke PSI adalah mantan Bupati Bima H Syafruddin, AA KT Agung Oka Kartha Wirya (tokoh muda Puri Agung Cakranegara), Lalu Mahdarain (majelis adat Sasak) dan Gaziamansyuri (tokoh masyarakat Dompu).
Baca Juga: Mantan Sekretaris PDIP NTB Lalu Budi Suryata Pimpin DPW PSI NTB
"Ada beberapa aspek yang bisa kita dibaca dalam perpindahan eks kader parpol ke PSI," jelas Agus.
Pertama, dari sisi demografi elektoral. Pemilih muda dari kalangan generasi Z (Gen Z) dan milenial tumbuh sangat cepat di Indonesia. Lebih dari 50 persen pemilih nasional termasuk di NTB dikuasai pemilih muda dari gen Z dan milenial.
"Apalagi PSI ini kan masih identik dengan partai anak muda. Maka dalam sistem pemilu yang menggunakan sistem proporsional terbuka, tentu saja pemilih muda menjadi incaran politisi," ungkapnya.
Baca Juga: Kaesang Lantik Pengurus PSI NTB, Target Dua Kursi DPR RI 2029 dan Perkuat Struktur hingga Desa
Kedua, sambung dia, PSI dinilai memiliki masa depan karena sejumlah daya tarik. Salah satunya karena faktor Jokowi yang dianggap sebagai vote getter yang masih memiliki banyak loyalis. Ini menjadi keuntungan elektoral dalam pemilu nanti.
"Dua variabel ini menurut saya menjadi pemicu politisi yang tidak mendapatkan tempat atau posisi strategis di partainya berpindah ke PSI. Fenomena ini terjadi dibanyak daerah tidak hanya di NTB," bebernya.
Dengan demikian, tambah Agus, PSI dianggap menarik bagi politisi yang mengincar posisi politik. Apalagi yang bersangkutan merasa tidak sejalan lagi dengan partai lama. Atau tidak lagi difungsikan sebagai fungsionaris dalam struktur partai asal. Sehingga menyimpan rasa kecewa dengan partai lamanya.
Baca Juga: Mantan Kadernya Kini Pimpin PSI, Begini Respons Petinggi PDIP NTB
"Sehingga PSI ini jadi alternatif yang berbeda dengan partai lama. Ditambah lagi karena faktor narasi partai anak muda dan inklusif," pungkas Agus.
Respons PDIP dan PPP
Sekretaris DPD PDIP NTB Hakam Ali Niazi mengatakan pihaknya tidak gentar meski sejumlah mantan kadernya kini berlabuh ke PSI. Banyak mereka menduduki jabatan strategis sebagai ketua DPW dan dewan pertimbangan PSI NTB.
"PDIP tidak khawatir sama sekali. Kami punya garis ideologi dan organisasi yang jelas," kata Hakam.
Baca Juga: Kaesang Lantik Pengurus DPW dan DPD PSI se-NTB Hari Ini, Ada Mantan PDIP, NasDem, Demokrat dan PPP
Ia optimistis bahwa sikap mantan kader yang pindah haluan ke PSI tidak akan diikuti oleh kader yang lain. Apalagi yang bersangkutan sudah lama tidak menjadi kader aktif.
Bahkan, tutur dia, Lalu Budi Suryata keluar dari PDIP setelah dipecat oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Pemecatan Lalu Budi bersamaan dengan mantan Presiden RI Joko Widodo dan putranya Gibran Rakabuming Raka pada Desember 2024. "Jadi saya tegaskan PDIP tidak khawatir sama sekali," cetusnya.
Ketua DPW PPP NTB H Muzihir juga menanggapi kepindaham TGH Hazmi Hamzar ke PSI. Disampaikan, mantan anggota DPRD NTB itu sudah tidak aktif lagi di PPP. Baik sebagai pengurus maupun kader. Sehingga status keanggotaannya sudah dinyatakan keluar dari Partai Kakbah.
Baca Juga: Forum DPW PPP Sepakat Ganti Sekjen, Optimistis Bisa Ikut Pemilu 2029
"Secara otomatis keluar dari keanggotaan partai. Apalagi beliau sudah tidak jadi pengurus lagi," ungkap Muzihir. (mar/r2)
Editor : Prihadi Zoldic