Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengenal Sakti, Atlet Karate Loteng Berprestasi

Administrator • Senin, 11 Maret 2019 | 14:12 WIB
SOSOK ATLET BERPRESTASI: Lalu Gede Mandala Neqmas Tanauran Sakti, seorang atlet usia dini yang berprestasi dalam Inkai Lombok Tengah, kemarin (10/3).
SOSOK ATLET BERPRESTASI: Lalu Gede Mandala Neqmas Tanauran Sakti, seorang atlet usia dini yang berprestasi dalam Inkai Lombok Tengah, kemarin (10/3).

Lalu Gede Mandala Neqmas Tanauran Sakti baru berusia 11 tahun. Namun di usia belianya atlet karate ini memiliki segudang prestasi. Seperti apa sosoknya.?


Dedi SS – Praya


==========================================


        Pagi itu, pukul 10.06 Wita, kemarin (10/3) Lombok Post, berkesempatan menyaksikan latihan para atlet Inkai di aula kantor Camat Pujut. Suasana panas menyegat, keringat bercucuran. Nyaris tak ada hembusan angin yang masuk di gedung itu. Itulah, yang terasa begitu melihat anak-anak usia dini, sedang bertarung.


        Latihannya cukup keras dan menantang. Mereka bertarung, saling tendang dan saling tinju. Kepala menjadi sasaran utama, karena bisa mendapatkan nilai lebih. Kalau lawan sampai terjatuh, maka nilainya semakin tinggi. Jadi, harus pintar-pintar menghindar dan menangkis setiap pukulan lawan.


        Agar tidak cedera, setiap atlet mengenakan pelindung kepala, pelindung perut dan pelindung dada. Tangan menggunakan sarung tinju, sedangkan kaki sepatu khusus karate. Kegiatan tersebut, sebagai upaya mempersiapkan diri mereka, bertanding dalam kejuaraan Inkai Kota Mataram Cup II se NTB.


        Dari sekian banyak anak-anak usia dini tersebut, satu diantaranya menggunakan sabuk hijau. Yang lain, masih menggunakan sabuk putih dan kuning. Namanya cukup panjang, Lalu Gede Mandala Neqmas Tanauran Sakti, lahir di Desa Katare 2 Juni 2008.


        Nama panggilannya Sakti, sesuai dengan namanya, anak ke empat dari Lalu Siaga dan Baiq Nurhidayati memang “sakti” kuat dan pemberani. Untuk mendapatkan sabuk hijau itu, tidak lah semudah yang dibayangkan, butuh proses panjang. Di Loteng, Sakti satu-satunya yang memegang dan menggunakan sabuk hijau, di usianya yang masih belia. Bukan karena, orang tuanya. Tapi, karena kemauan kerasnya.


        Kalau mau mencoba melawan Sakti, maka harus banyak menghindar. Karena, tendangannya bisa menempus kepala orang dewasa, begitu pula pukulan tangannya. Sakti merupakan, atlet terbaik kejuaraan Inkai Kota Mataram Cup I se NTB, yang digelar tahun lalu. Namanya, sudah tidak asing lagi di usianya.


        Di tingkat kabupaten, jangan ditanya lagi. Ia memiliki sederetan prestasi, sudah tidak terhitung berapa jumlahnya. Ia menekuni Inkai, sejak duduk di kelas III di SDN 1 Ketare, hingga sekarang kelas V. Kini, ia berada pada posisi puncak di usianya.


        Namun, Sakti merasa tidak berpuas diri. Ia masih ingin merebut sabuk biru, bahkan coklat. Untuk mendapatkannya, ia ingin menunjukkan prestasi di kejuaraan Inkai Kota Mataram Cup II, tahun ini lagi. “Saya berusaha menang,” cetus Sakti dengan nada polos.


        Saat ditanya, bagaimana persiapannya. Saksi dengan polos nya lagi menjawab, sudah berpengalaman. Karena, tahun lalu pernah ikut. “Insya Allah,” cetusnya lagi, sembari memperlihatkan cara memukul dan menendang lawan.


        Di Inkai sendiri, terdapat enam sabuk yang dilalui para karateka. Paling dasar sabuk putih, kemudian naik ke sabuk kuning, naik lagi ke sabuk hijau, sabuk biru dan sabuk coklat. Kemudian, naik lagi sabuk hitam hingga mendapat gelar guru besar. Untuk mendapatkannya, prosesnya bertahun-tahun.(*)

Editor : Administrator
#Praya