Satu lagi objek wisata yang perlu dikunjungi wisatawan di Lombok Tengah. Namanya, jembatan maiq meres. Sebutan itu dihadiahkan untuk Bupati HM Suhaili FT dan Wakil Bupati HL Normal Suzana, kala itu.
Dedi SS – Praya
================
Dibangun sejak tahun 1984 silam, jembatan dan saluran irigasi ini dihajatkan untuk mengairi persawahan di seluruh desa di Kecamatan Batukliang Utara, Batukliang, Kopang bahkan Kecamatan Praya. Sumber air dari kaki gunung Rinjani, tepatnya di Desa Benang Stokel. Kendati musim kemarau, air irigasi tidak pernah kering.
Dulu, jembatan tersebut tidak memiliki nama. Namun, begitu Suhaili-Normal memimpin Loteng tahun 2010 lalu, tiga pemerintah desa menyepakati nama Maiq Meres. Bagi mereka, nama itu sudah mewakili seluruh warga Gumi Tatas Tuhu Trasna.
Tahun 2015, mahasiswa Universitas Mataram (Unram), mendirikan gapura. Bertuliskan, objek wisata jembatan Maiq Meres. Sejak itulah, nama jembatan yang satu itu, dikenal luas ditengah masyarakat. Sehingga, wisatawan dari berbagai daerah di Loteng khususnya dan Pulau Lombok umumnya, berdatangan.
Hari Sabtu dan Minggu, biasanya ramai dikunjungi. Mereka tidak saja menikmati arus air irigasi, yang deras dan melimpah ruah. Tapi, mengabadikan diri melalui swafoto yang sudah disiapkan. Tinggal pilih saja. Di tempat itu, disediakan pula berugak, tempat duduk dan warung. Suasana asri dan sejuk, terasa.
Lokasinya, kalau dari jalan kabupaten, sekitar 1 kilometer (km). Setelah itu, akan melewati jalan tanah dan bebatuan. Kiri dan kanan pemandangan hamparan sawah, kebun dan hutan. Sabtu pagi (9/3) lalu, Lombok Post melihat-lihat dan menikmati objek wisata yang satu itu.
Dari cerita kepala desa (Kades) Teratak Muhammad Ipkan, bangunan jembatan tersebut, berdiri tepat di perbatasan tiga desa. yaitu, Desa Teratak, Desa Lantan dan Desa Aik Berik. “Kami kelola secara bersama-sama dan bergotong rotong,” ujarnya.
Arus air, kata Ipkan muaranya di bendungan Babak Renggung. Di tempat itulah, para petani berbagi mengairi sawah mereka masing-masing. Koran ini pun, mengikuti arah sepanjang aliran air irigasi dengan bersepeda.
Kalau melihat derasnya air, sebenarnya cocok untuk arung jeram. Hanya saja, ketiga pemerintah desa yang dimaksud, tidak menyediakannya. Mereka berharap, ada pihak ketiga yang mengembangkannya. “Yang penasaran, mari datanglah ke objek wisata ini. Ternyata, Loteng kaya objek wisata,” cetus Dandim 1620/Loteng Letkol CZI Prastiwanto.(*)
Editor : Administrator