Tolong Pak Bupati, TKW Loteng Minta Dipulangkan dari Irak!
Administrator • Kamis, 13 Februari 2020 | 23:44 WIB
PRAYA-Keluarga Amaq Mahrup berharap Hj Zurriati, tenaga kerja wanita (TKW) asal Dusun Bagek Tenten Desa Batunyala, Kecamatan Praya Tengah Lombok Tengah, segera dipulangkan. “Istri saya itu bekerja di Irak,” kata Amaq Mahrup, kemarin (12/2).
Ceritanya, keberangkatan ibu empat orang anak tersebut, tanpa sepengetahuan suami dan keluarga. “Waktu itu dia (Zurriati) pamitan mau ke Yayasan Ponpes Muhajirin selama tiga hari,” ujar Amaq Mahrup, sembari menunjukkan foto istrinya. Seolah tidak terjadi apa-apa, dia mempersilakan istrinya pergi.
Namun, begitu empat hari berjalan tidak ada kabar. Tiba-tiba nomor asing datang dan menyampaikan pesan bahwa istrinya tersebut, berada di luar negeri. Dia berangkat Juli 2018 lalu. Menggunakan paspor dari Jawa Barat atas nama Karsinah, bukan nama aslinya Hj Zurriati. Alamatnya juga Jawa Barat, bukan Loteng.
Dia meminta siapapun yang memberangkatkan istrinya itu, segera datang ke rumah. Lalu meminta maaf dan memulangkan istrinya. Jika tidak, akan dilaporkan ke aparat hukum, atas dugaan perdagangan orang atau human trafficking. “Saya tidak bodah. Jadi jangan saya dibodoh-bohodi,” tegasnya.
Selama di Irak, kata dia istrinya berkali-kali menghubungi melalui telepon genggam, menyesali perbuatannya, meminta maaf dan minta pulang. Hanya saja, dia tidak bisa berbuat banyak. Kecuali, memohon bantuan pemerintah dan aparat. “Semoga melalui media ini, kami dibantu,” tambah Nirmala Inmanila, anak kedua dari Amaq Mahrup dan Hj Zurriati.
Dia menceritakan, keberangkatan ibunya itu sebenarnya bukan kali pertama. Tapi, sudah keenam kalinya. Tahun 2005 lalu pernah di Arab Saudi, tahun 2007 di Suriah dan Dubai. Itu seizin keluarga. Kecuali keberangkatan terakhir ini saja.
“Sudah berkali-kali kami sampaikan, jangan berangkat ke negara-negara yang di moratorium,” cetus Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Loteng H Masrun, terpisah.
Apalagi, pemberangkatannya tidak prosedural. Karena sulit pemerintah melacak di mana posisi TKI atau TKW bersangkutan. Kecuali, sponsor atau tekong. Untuk itulah, pihaknya meminta yang memberangkatkan bertanggungjawab. Jika tidak, maka siap-siap berurusan dengan Disnakertrans dan aparat. “Tolong ini diperhatikan,” ancamnya.(dss/r2) Editor : Administrator