Dedi Shopan Shopian, Lombok Tengah
Total luas lahan pertanian di Desa Kateng mencapai 1.500 ha. Dalam setahun para petani di desa itu menanam padi. Itu saat musim hujan saja. Begitu musim kemarau, ada yang menanam tembakau, semangka, jagung, kedelai, bawang merah, kacang tanah, sayur-mayur dan tentunya golden melon.
Hanya saja, tidak semua petani menanam golden melon. Namun, bukan karena mereka tidak berminat, tidak ada pengetahuan, tidak ada bibit atau tidak ada modal. Tapi, menanamnya tidak di sembarangan tempat. Tanaman yang satu itu, biasanya di tanam di tanah liat. Bukan tanah pada umumnya.
Lalu Syarifuddin, satu dari sekian banyak petani sukses di Desa Kateng menceritakan, kalau di tanam di tanah biasa, rasanya tidak semanis yang di tanam di tanah liat. Berpengaruh pula pada ukuran, bentuk dan warna melon. Sehingga dari 19 dusun di Desa Kateng, hanya tiga dusun yang potensial.
Yakni Dusun Pilang, Dusun Kemelong, dan Dusun Gubuk Duah. Luas areal tanamnya mencapai 3 ha. Dalam satu hektarenya, mampu menghasilkan 30 ton golden melon, bahkan lebih. Kalau dijual dalam satu hektarenya mencapai Rp 300 juta. “Karena per kilonya di jual Rp 10 ribu,” ujar Miq Syarif-panggilan akrabnya- yang kini menjabat sebagai kepala desa (kades) Kateng tersebut.
Dalam satu buah golden melon, beratnya paling rendah 1,5 kilo atau setara dengan Rp 15 ribu per buah. Sedangkan yang paling tinggi 3 kilo atau setara dengan Rp 30 ribu per buah.
Kalau masuk ritel modern, sudah dua kali lipat harganya. Saat ini, sudah masuk di Lombok Epicentrum Mataram, Mataram Mall dan beberapa ritel modern lainnya. Sedangkan di luar daerah, yang paling banyak pemasannya Pulau Bali dan Pulau Jawa.
Kalau di jual di pasar tradisional, atau lapak-lapak pedagang sepertinya sulit terjual. Itu karena harganya yang mahal. Beda dengan buah melon pada umumnya.
Pola tanam golden melon dalam setahun, bisa tiga kali, atau setiap 70 hari panen. “Kami pernah menghasilkan uang sampai Rp 2 miliar, dari bertani golden melon ini,” cerita Miq Syarif.
Untuk itulah, pihaknya tidak mau meninggalkan profesi utamanya sebagai petani golden melon. Karena hasilnya, mengalahkan pendapatan sebagai aparatur pemerintah desa.
Bagi Miq Syarif, inilah yang disebut modal rendah, untung besar. Kendati demikian, pihaknya berharap lahan-lahan pertanian yang lain, bisa di tanam golden melon.
Pemerintah desa berharap, ada inovasi tersendiri. Sehingga seluruh petani di Desa Kateng, bisa beralih menanam golden melon. (*/r5) Editor : Administrator