“Untuk mengetahui berapa jumlah pajak yang disetor, berapa jumlah tamu yang berkunjung, berapa lama mereka menginap dan berapa jumlah pembayaran,” kata Kepala Dinas Pendapatan (Dispenda) Loteng Lalu Karyawan, Kamis (8/4).
Dijelaskan, nanti pihaknya tinggal mengontrol dari kantor saja. Karena alat itu terpasang di satu aplikasi yang dimiliki pemilik pelaku usaha. Kemudian terkoneksi dengan dispenda.
Sehingga mereka tidak bisa mempermainkan data. Langkah itu dilakukan, sebagai upaya menertibkan penerimaan pajak dan restribusi. Dalam mengaplikasikan alat ini, Dispenda Loteng menggandeng Bank NTB Syariah.
“Sebagai percontohan, kita sudah pasang di delapan hotel,” tandas Karyawan didampingi Sekretaris Dispenda Loteng H Reman.
Kata dia, diantaranya Novotel Resort, Hotel Astari dan Hotel Jevana. Secara bergiliran akan dipasang di tempat lain juga.
Dia berharap, lewat alat pajak pintar itu pendapatan asli daerah (PAD) terkumpul secara maksimal. “Tahun lalu, PAD kita benar-benar merosot total,” tambah Sekretaris Dispenda Loteng H Reman.
Hal itu akibat dampak pandemi Covid-19. Tahun ini, pihaknya berharap ada pemulihan dan perbaikan. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan mengganggu porsi APBD. Sehingga secara otomatis akan mengganggu program kerja pemerintah. Baik fisik maupun non fisik.
“Kalau pariwisata kita bergerak, maka PAD kita ikut bergerak. Begitu pula sebaliknya,” ujar Reman.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Loteng Samsul melihat beberapa bulan ke depan pariwisata akan pulih. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah mempercepat program vaksinasi. Kemudian membuat kebijakan dan regulasi menyangkut percepatan pemulihan pariwisata.
“Covid-19 ini benar-benar membuat pariwisata terpuruk total,” keluh Samsul. Dia berharap, seluruh elemen masyarakat mau divaksin dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan. Karena itu satu-satunya cara mengakhiri bencana non alam tersebut. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita