Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tak Hanya di Mataram, Loteng juga Punya Sentra Kerajinan Mutiara

Rury Anjas Andita • Kamis, 10 Februari 2022 | 14:00 WIB
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.
Sentra kerajinan mutiara di Pulau Lombok tidak hanya di Sekarbela, Kota Mataram. Di Lombok Tengah juga ada. Tepatnya di Desa Mantang, Kecamatan Batukliang.

----

“Minggu depan, kami akan mengirim pesanan suvenir ke Tangerang,” ujar perajin mutiara Aminatun Zohrah pada Lombok Post.

Jumlahnya sebanyak 200 buah suvenir. Itu untuk gantungan masker yang akan disiapkan pada acara pernikahan.

Harganya Rp 60 ribu per buah. Tapi, kalau dijual di daerah sendiri di bawah itu. Kerajinan mutiara yang dibuatnya tersebut ada dua jenis. Yakni, mutiara laut, atau yang diambilnya dari para nelayan budi daya mutiara di sejumlah tempat di Pulau Lombok.

Kemudian mutiara sintetis atau mutiara yang dibuat dari plastik. Harganya dari yang termurah Rp 10 ribu dan termahal antara Rp 200 ribu per gram sampai Rp 250 ribu per gram. Terkadang ada juga yang memesan mutiara dengan emas.

Kalau itu harganya menyesuaikan berat dan karat emas. Ditambah berat dari mutiara. Untuk membuat kerajinan mutiara tersebut, tidak membutuhkan waktu lama. Karena tinggal dirangkai atau menyesuaikan dengan pesanan.

Pilihannya ada kalung, cincin, gelang dan masih banyak lagi. “Kalau urusan akses pasar, Alhamdulillah sudah menyebar disejumlah daerah di Indonesia,” papar Zohrah.

Diantaranya Samarinda, Cianjur, Bandung, Jakarta, Surabaya, Kalimantan dan Sulawesi. Zohrah menargetkan akan menempus pasar ekspor. Untuk itu, dia berharap hasil kerajinannya tersebut bisa dikenal dunia lewat MotoGP di Sirkuit Mandalika di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Berbagai ikhtiar dilakukannya. Salah satunya, meminta bantuan asosiasi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Loteng memperjuangkannya.

Hasilnya, kerajinan mutiaranya diberikan ruang untuk mengikuti berbagai pameran. “Semoga bisa masuk di MotoGP,” harap srikandi cantik tersebut.

Kalau berbicara kualitas, pihaknya memastikan tidak kalah dengan hasil kerajinan mutiara di tempat lain. Begitu pula urusan kuantitas, berapa pun yang diminta, dipastikan siap.

Bagi Zohrah, balap motor kelas dunia di sirkuit Mandalika itu sebagai pintu masuk memperkenalkan hasil kerajinannya di mata dunia. Karena yang datang menyaksikannya dari berbagai negara di dunia. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Lombok Tengah #kerajinan mutiara #Desa Mantang