Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penonton Banyak, tapi Pelaku UMKM di Stand MotoGP Malah Ngaku Rugi

Rury Anjas Andita • Selasa, 22 Maret 2022 | 17:00 WIB
SEPI PENGUNJUNG: Saat jelang sunset di Pelabuhan Senggigi, beberapa waktu lalu.
SEPI PENGUNJUNG: Saat jelang sunset di Pelabuhan Senggigi, beberapa waktu lalu.
PRAYA-Sejumlah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di sirkuit Mandalika Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Lombok Tengah mengeluh karena mengalami kerugian. Stand-stand yang disewa maupun yang diberikan gratis tidak banyak pengunjung yang datang.

“Kalau dibandingkan WSBK dan MotoGP, lebih bagus WSBK,” sindir Sekretaris Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Loteng Muhammad Husni Lombok Post, Senin (21/3).

Dikatakan, saking sepi pengunjung beberapa UMKM menggelar demo. Aksi itu terjadi di dalam dan di luar sirkuit Mandalika.

Kendati mereka berada di area strategis, tapi pembeli kurang. Kalau berdiri di stand-stand UMKM terdengar suara mesin motor yang digeber pembalap.

Padahal harga sewa stand di tempat itu sangat mahal. Untuk jenis gold saja sebesar Rp 38,5 juta per stand dan jenis bronze sebesar Rp 16,5 juta per stand selama tiga hari.

Untuk UMKM Loteng sendiri ada tujuh stand gold dan dua stand bronze yang mereka sewa. Jika dikalikan, maka untuk gold saja sebesar Rp 269 juta dan bronze sebesar Rp 33 juta. Per satu stand di tempati 3-4 pedagang. Itu artinya, mereka patungan, tidak menyewa sendiri.

Awalnya, mereka membayangkan akan mendapatkan keuntungan dua kali lipat dari harga sewa stand. Faktanya, tidak ada. Malah rugi besar.

Seperti hari pertama MotoGP, nasi bungkus dan nasi kotak yang dijual terpaksa dibuang. Karena sudah basi akibat tak beli. Hal yang sama dirasakan pedagang pakaian, kerajinan tangan seperti mutiara, ketak, rotan dan masih banyak lagi. Mereka hanya duduk terdiam menunggu pembeli.

Itu juga dirasakan stand-stand di parkiran barat sirkuit Mandalika atau Masjid Nurul Bilad, dan parkiran timur sirkuit Mandalika, atau area Pantai Tanjung Aan. “Bagi UMKM yang sewa stand benar-benar terpukul. Sedangkan stand gratis hanya bisa gigit jari,” sindir Husni.

Dia berharap, persoalan yang dihadapi UMKM dijadikan bahan evaluasi bagi pemerintah dan penyelenggara MotoGP. Terutama menyangkut penonton. Di mana penonton MotoGP menghabiskan waktunya untuk mengantre tiket dan bus.

Yang seharusnya mereka menyisihkan waktu untuk sekadar melihat-lihat, duduk-duduk hingga membeli oleh-oleh atau makan dan minum justru tidak ada. Itu karena, penonton dikejar waktu untuk masuk ke tribun.

Sementara itu, Bupati Loteng HL Pathul Bahri angkat bicara. Dia mengatakan pemerintah, ITDC dan MGPA memastikan akan mengevaluasi seluruh persoalan yang terjadi selama MotoGP. “Baik dari hulu hingga hilir,” tegasnya.

Kendati demikian, pihaknya merasa bersyukur dan berterima kasih karena selama MotoGP berjalan aman. Tidak ada gangguan keamanan dan kondusivitas daerah.

“Kami angkat topi dengan kerja keras aparat keamanan,” sanjung Pathul. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#UMKM #MotoGP #sirkuit mandlaika