----
Namanya Sahnun, alumni Universitas Qomarul Huda Badaruddin Bagu di Desa Bagu, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah. Dia sehari-hari bekerja di Puskesmas Ganti. Tidak jauh dari rumahnya di Dusun Malegetik Desa Persiapan Semudane, pemekaran dari Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur.
Ia lulus program studi keperawatan tahun 2015. Selama kuliah, ia bolak balik dari desanya menuju Bagu. Itu karena, ia ingin tetap membantu kedua orang tua menggarap lahan pertanian dan menjaga bangunan oven tembakau. Kalau musim hujan, lahan di tanami padi dan terkadang palawija.
Hanya saja, keuntungannya tidak seberapa dibandingkan menanam tembakau. “Karena saya bisa sekolah dan kuliah ini dari tembakau,” ujar Sahnun yang didampingi keluarga Amaq Peni pada Lombok Post.
Musim kemarau, menjadi musim yang ditunggu-tunggu. Sahnun biasanya berjibaku menanam tembakau. Perawatannya ekstra, sesekali harus disiram dan diberikan pupuk. Aktivitas itu dilakukannya setiap hari selama empat bulan. Walau demikian, tugas pokoknya menjadi seorang perawat jalan terus.
Ia tidak malu dan gengsi. Apalagi, bertani tembakau itu penghasilannya lebih besar daripada pekerjaan lain. Misalnya, untuk 1 hektare (ha) lahan pertanian. Diceritakannya, luas lahan itu bisa di tanam 4 ribu bibit tembakau. Harga per bibit sebesar Rp 150, atau sama dengan Rp 600 ribu per 1 ha.
Begitu tumbuh besar mampu menghasilkan tembakau sebanyak 20 ton. Itu dalam bentuk daun basah. Kalau dikeringkan, maka akan menyusut menjadi 3,4 ton atau keuntungan kotornya setara dengan Rp 102 juta.
“Itu baru 1 ha, bagaimana kalau berhektare atau berpuluh hektare. Tinggal dikalikan saja. Kalau ditambah biaya perawatan dan lain-lain bisa menghabiskan Rp 32 juta per 1 ha,” ujar Sahnun.
Artinya, penghasilan bersih dari bertani tembakau per 1 ha mencapai Rp 70 juta. Sehingga wajar, menurut pria lulusan profesi ners tahun 2017 tersebut, banyak warga tergiur dengan bertani tembakau. Banyak warga dari luar Loteng yang datang menyewa lahan di desanya. Bahkan desa-desa tetangga.
Untuk itu, ia memastikan tidak akan lepas dari bertani tembakau. Walau bekerja sebagai perawat atau menjadi seorang aparatur sipil negara (ASN). “Kecuali, manusia di dunia ini sudah berhenti merokok, maka lain ceritanya,” tandasnya sambil tersenyum. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita