“Sungai Kali Lenek itu menjadi satu-satunya jalur yang dilewati pipa PDAM,” kata Kepala Desa (Kades) Lantan Erwandi pada Lombok Post, Kamis (5/1).
Artinya, kata Erwandi, tidak ada jalan lain. Di satu sisi, setiap tahun pasti air bah menerjang. Namun, itu skala sedang. Sedangkan, lima tahun sekali air bah skala besar pasti terjadi. “Orang tua kami dulu sering menyampaikan itu. Biasanya lima tahun sekali banjir besar (belabur beleq),” ujarnya.
Terkadang pipa yang ada terbawa arus air bah. Belum lagi, kerusakan akibat longsor. Untuk itu, pihaknya berharap PDAM Praya berinovasi, guna mencari solusi terbaik. Misalnya, dengan membangun jembatan pipanisasi.
Di mana, ketinggiannya lebih tinggi dari air bah yang datang. Bukan seperti sekarang di bawah aliran sungai atau solusi lain. “Dampak lain yang kami rasakan kalau aliran sungai itu meluap, yakni lahan-lahan pertanian kami tergerus,” papar Erwandi.
Seperti yang terjadi tahun ini, ada puluhan hektare (ha) lahan pertanian yang rusak akibat dilanda banjir. Kalau permukiman warga aman. Karena jauh dari lokasi aliran sungai. “Seperti itu gambarannya,” tandas mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tersebut.
Sementara itu, Direktur Teknik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Loteng Sukemi Adiantara mengatakan, sudah berkali-kali pipa di aliran sungai Kali Lenek diperbaiki. Begitu kondisinya sudah normal, rusak lagi.
Walau demikian, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. “Karena untuk perencanaan yang lebih baik dan besar, maka butuh anggaran yang lebih besar pula,” ujarnya yang ditemui secara terpisah.
Perbaikan-perbaikan yang ada saat ini, kata Sukemi, menghabiskan anggaran antara Rp 25 juta sampai Rp 50 juta. “Tidak lebih dari itu,” pungkasnya. (dss/r5) Editor : Rury Anjas Andita