Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Memasuki Musim Kemarau, Warga Semoyang Loteng Mulai Krisis Air

Rury Anjas Andita • Selasa, 13 Juni 2023 | 10:00 WIB
MULAI KERING: Seorang warga menunjukkan kondisi Embung Pare yang mulai kering pada musim kemarau ini di Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur, Loteng, Senin (12/6). (Dewi/Lombok Post)
MULAI KERING: Seorang warga menunjukkan kondisi Embung Pare yang mulai kering pada musim kemarau ini di Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur, Loteng, Senin (12/6). (Dewi/Lombok Post)
PRAYA-Sebagian besar warga dari Desa Semoyang, Kecamatan Praya Timur, Loteng mulai kesulitan air bersih pada musim kemarau tahun ini. Untuk mendapatkan akses air minum, warga terpaksa membeli air galon isi ulang. Sedangkan untuk mandi cuci kakus (MCK) air yang masih ada dari sumur tetangga pun harus digunakan sehemat dan sebijak mungkin.

"Untuk minum beli yang air galon, sehari bisa tiga kali beli minimal untuk air keluarkan Rp 15 ribu per hari," ungkap Rian Saputra pada wartawan, Senin (12/6).

Kondisi ini sudah dialami sejak dua bulan terakhir. Bahkan, ketika air sumur mulai berkurang warga terpaksa membeli air bersih yang diperjualbelikan dari mobil tangki yang masuk ke desa-desa.

"Bisa keluarkan biaya sampai Rp 250-300 ribu untuk satu mobil tangki," paparnya.

Kesulitan air juga dirasakan para petani setempat. Mereka kesulitan untuk mengairi lahan pertanian yang saat ini ditanami tembakau usia 1-2 bulan. Untuk mengairi lahan, petani membeli air yang diangkut mobil pikap. Mobil ini bisa memuat tujuh galon besar dengan kapasitas 165 liter per galon.

"Harga per galon besar bisa mencapai Rp 50 ribu, saya biasa beli tujuh galon untuk satu hektare lahan, ini pun tidak cukup," tambah Amaq Tarijan selaku petani setempat.

Walau lokasi lahan tak begitu jauh dari Embung Pare, kata dia, kondisi embung juga serupa tidak ada air. Kalau pun ada air, posisi lahan miliknya cukup tinggi sehingga tak dapat dilewati saluran irigasi. "Satu-satunya cara saya siram pakai centong dan ember," imbuhnya.

Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Semoyang Badrun membenarkan, jika warga di 22 dusun di Desa Semoyang mulai kesulitan air bersih untuk konsumsi dan keperluan sehari-hari. "Air di embung kering, memang air sumur warga ada tapi terbatas," katanya.

Kondisi yang tiap tahun terjadi membuat pihak desa mengajukan permintaan air bersih ke BPBD Loteng. Namun tahun ini belum diajukan karena kondisi air masih ada walau terbatas.

"Biasanya bulan Oktober puncak kekeringan air, tapi sampai sekarang belum ada laporan kepala dusun," tambahnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Loteng Ridwan Ma'ruf mengatakan, pihaknya mencatat sebanyak enam kecamatan sudah mulai mengalami kekeringan memasuki musim kemarau 2023. "Dari 12 kecamatan ada enam kecamatan yang mengalami kekeringan tahun ini," katanya.

Adapun enam kecamatan itu, Pujut, Praya Timur, Praya Barat, Praya Barat Daya, Janapria dan Jonggat. "Enam wilayah ini jauh dari sumber mata air, sehingga lebih cepat mengalami kekeringan saat musim kemarau," beber Ridwan.

Sedangkan untuk Kecamatan Batukliang, Batukliang Utara, Kopang, Pringgarata, Praya dan Praya Tengah masih dalam kondisi aman. Karena wilayah itu lebih dengan sumber air. "Akibat musim kemarau ini debit air di Lombok Tengah mulai berkurang," tambah Ridwan.

Ia mengatakan, meskipun debit air berkurang, namun sampai saat ini belum ada warga yang mengajukan permintaan air bersih. Meski demikian, BPBD telah siapkan air bersih jika ada permintaan.

"Bantuan air bersih telah kita siapkan, namun sampai awal Juni ini belum ada yang mengajukan permintaan," katanya.

Dikatakan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) NTB musim kemarau tahun ini diprediksi lebih lama bila dibandingkan dengan tahun lalu. "Prediksi musim kemarau 2023 ini berlanjut hingga September, meskipun normalnya Oktober itu telah mulai hujan," pungkasnya. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#krisis air #bmkg #BPBD Loteng #Kekeringan