LombokPost-Walau angka stunting pada balita di Lombok Tengah (Loteng) telah mencapai 13,34 persen, upaya untuk menekan kasus ini terus berjalan.
Meski persentasi ini sudah dibawah target nasional untuk tahun 2024 sebesar 14 persen.
"Kasus di Desa Jelantik ini masih ada 120 balita stunting, sebelumnya 200 lebih, sehingga jadi prioritas kami untuk pemberian bantuan telur," ucap Wakil Bupati Loteng HM Nursiah usai menghadiri kegiatan Posyandu di Desa Jelantik, Kecamatan Jonggat, Loteng, Selasa (28/11).
Dengan terus mengintervensi kasus stunting ini, sambung Wabup, ditargetkan angkanya semakin berkurang khususnya di Desa Jelantik.
"Kita terus evaluasi meski sudah dibawah nasional," timpalnya.
Selain kasus stunting, kata politisi Golkar ini, penting diperhatikan kualitas kader atau sumber daya manusia dalam menurunkan stunting di lapangan.
Sejauh mana mereka memberikan pembinaan dan mengawasi keluarga yang anaknya mengalami stunting. Sebab bantuan gizi atasi stunting ini diperuntukkan bagi balita.
"Bagaimana keterlibatan mereka dalam mengawasi ini, sebab kami (berkomitmen, red) untuk terus bergerak menurunkan angka stunting," kata mantan sekda Loteng ini.
Pada tahun 2024, diakui Nursiah, akan disesuaikan berdasarkan hasil evaluasi kasus stunting tahun ini.
Sebab melihat penanganan yang diberikan sangat efektif menurunkan angka stunting di Gumi Tatas Tuhu Trasna.
Termasuk terobosan baru yang akan dilakukan pemerintah daerah.
"Program tahun depan mirip dengan tahun ini, penyiapan makanan gizi yang hewani, susu, ikan sebagai sumber protein dan nabati," pungkasnya. (ewi)
Editor : Marthadi