LOMBOKPOST-Dalam kunjungan kerja Menteri Pertanian (RI) Andi Amran Sulaiman menyebutkan jika jumlah petani penerima pupuk subsidi perseorangan berkurang. Sejalan dengan kriteria penerima pupuk bersubsidi yang mengharuskan berkelompok. Serta penebusan pupuk harus menunjukkan dan memfoto Kartu Tanda Penduduk (KTP).
“Para penerima pupuk bersubsidi kini harus memiliki KTP, sebab alokasi pupuk ini sesuai dengan e-RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani) yang terkoneksi dengan NIK (nomor induk kependudukan),” ucap Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Lombok Tengah (Loteng) Muhammad Kamrin, Senin (29/1).
Dispertan pun berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) untuk memperbaiki data petani. Sehingga distribusi pupuk bersubsidi lebih maksimal. Dengan ikut turun langsung ke desa-desa bersama Disdukcapil melakukan perbaikan data petani. Terutama mereka yang terdaftar sebagai penerima pupuk bersubsidi.
“Perbaikan ini dilakukan selama empat bulan, sekaligus evaluasi penyaluran pupuk,” jelasnya.
Kamrin menuturkan, pada alokasi pupuk bersubsidi tahun ini ada sebagian petani yang tidak keluar namanya. Lantaran tidak memiliki KTP, atau angka NIK pada e-RDKK yang tidak sinkron dan masalah lainnya. Sebab itu, ia berharap para petani yang belum terdaftar agar bisa segera melapor. Sehingga bisa terdaftar sebagai penerima pada alokasi pupuk bersubsidi berikutnya.
“Kita juga harapkan para pengecer dan kelompok tani tidak kaku. Mereka harus lebih aktif mendaftarkan anggotanya,” timpal Plt Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Loteng itu.
Mengenai ketersediaan stok pupuk bersubsidi dia Gumi Tatas Tuhu Trasna, diakui tahun ini tidak ada persoalan. Sebab dari 50 ribu ton yang diusulkan, alokasi pupuk yang diberikan pemerintah mencapai 23.489 ton baik jenis urea dan NPK.
Ditambah dengan instruksi dari Kementerian Pertanian, bahwa alokasi pupuk pada musim tanam kedua itu dapat dialokasikan untuk kebutuhan pada musim tanam pertama. “Jadi tidak perlu khawatir, ketersediaan tidak ada masalah, masih banyak,” ucapnya.
Menyoal luas tanam di Loteng pada musim hujan ini mencapai 51 ribu hektare (Ha). Namun hingga saat ini baru 35 ribu Ha yang telah ditanami padi. Ini disebabkan dampak El Nino, mengingat lahan pertanian di Loteng tergantung pada air hujan dan musim tanam yang mundur.
“Masih ada sisa 15 ribu Ha dari total luas tanam yang belum mulai ditanami padi,” tukas Kamrin. (ewi)
Editor : Redaksi Lombok Post