LOMBOKPOST-Grup musik kecimol diimbau untuk menaati aturan sehingga tidak mengganggu ketertiban masyarakat.
Keberadaan kecimol yang identik dengan penari erotis di jalan raya dianggap sejumlah pihak kerap mengganggu lalu lintas dan pengguna jalan.
“Saya sudah dengar ada aturan main atau awiq-awiq yang dibuat dan telah disepakati bersama. Saya minta itu dipegang teguh dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” ucap Bupati Lombok Tengah (Loteng) Lalu Pathul Bahri, Jumat (2/2).
Bupati menuturkan, pro kontra soal keberadaan kecimol adalah lumrah, namun yang penting jangan sampai mematikan usaha orang lain.
Sebab satu sisi, banyak orang yang datang kepada dirinya untuk tidak memberikan izin akan tetapi satu sisi ada ratusan orang yang menggantungkan hidupnya melalui kesenian ini.
“Kecimol adalah salah satu mata pencaharian mereka, saya jga tidak ingin kecimol membuat kegaduhan di tengah masyarakat dengan penari erotis. Karena itu harus ada aturan main yang mengatur tentang tata cara di jalan dan joget,” timpalnya.
Bupati juga mengingatkan, agar di jalan kecimol tidak joget atau bergoyang yang mengundang penilaian buruk masyarakat.
Terlebih lagi kecimol sering dianalogikan sebagai grup yang kerap mengundang kemacetan dan keributan di jalan raya. Jika itu terjadi, yang paling susah adalah pemerintah desa dan aparat kepolisian.
“Semua orang harus saling menghormati, sebab pengguna jalan tidak hanya kecimol tetapi pengendara, pejalan kaki juga memiliki hak yang sama di jalan itu,” pungkas orang nomor satu di Gumi Tatas Tuhu Trasna ini.
Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Kecimol NTB Suhardi mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi kecimol untuk menjadi lebih baik kedepannya.
“Sehingga apa yang diinginkan masyarakat agar keburukan itu bisa kami perbaiki,” ujarnya.
Baca Juga: Jalan Udayana Tembus Gunungsari Lobar Mulai Digagas
Menurutnya, dalam organisasi ini sudah memiliki aturan main yang sangat ketat. Namun, masih ada 30 persen kecimol yang belum diakomodasi dalam organisasi sehingga belum mengikuti aturan main organisasi.
“Apapun keadaannya mereka adalah saudara kita. Kami doakan agar mereka mau sadar bahwa kita hidup di bumi yang penuh dengan tatanan tata kerama, walaupun satu yang berbuat kita semua kena imbas,” tukas Suhardi. (ewi)
Editor : Kimda Farida