LombokPost--Musim kemarau berkepanjangan membuat harga beras merangkak naik di Lombok Tengah (Loteng).
Dari pantauan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kenaikan berkisar Rp 1.000 per kilogram (Kg) di setiap jenisnya.
”Benar, ada kenaikan karena kekeringan. Naik seribu rupiah,” ucap Sekretaris Disperindag Loteng Roro Sri Mulyaningsih yang dikonfirmasi, Minggu (6/10).
Ia menuturkan, harga beras jenis premium berbagai merek yang semula Rp 15 ribu per Kg menjadi Rp 16 ribu per Kg.
Seperti beras Ramos dari Rp 13.500 per Kg menjadi Rp 14.500. Lalu, beras merek Tanjung menjadi Rp 15.000 yang semula Rp 14.000.
Untuk beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) tidak mengalami kenaikan sebesar Rp 55.000 kemasan 5 Kg.
”Perlahan-lahan mulai naik yang premium, gegara kekeringan dan sebagian wilayah Loteng selatan tidak menanam padi,” jelasnya.
Walau ada sedikit kenaikan, Disperindag memastikan ketersediaan beras lokal masih aman di pasaran.
Meski pada bulan ini masyarakat Lombok memperingati perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW membuat permintaan di pasaran ikut meningkat.
"Permintaan beras semakin meningkat, sehingga pada tanggal 15 September kami juga akan gelar expo pasar murah bersama Bulog,” kata Ningsih, akrab disapa.
Tidak hanya beras, lanjutnya, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas minyak goreng dan gula pasir.
Minyak goreng yang semula Rp 16 ribu menjadi Rp 18 ribu, sedangkan gula pasir yang semula Rp 14 ribu menjadi Rp 16 ribu per Kg.
Sementara harga bumbu dapur lainnya dinilai Ningsih masih stabil.
”Kami hanya mengimbau pada masyarakat untuk tidak panic buying, maupun menimbun beras, karena stok yang tersedia masih aman,” jelas mantan kepala Bidang Perdagangan ini.
Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Loteng Lalu Rahadian mengatakan, pada musim kemarau ini adalah musim tanam ketiga untuk menanam palawija bukan padi.
Tapi kenyataan di lapangan, petani masih lebih memilih menanam padi pada musim kemarau.
”Sehingga menyebabkan tanaman padi yang ditanam mengering, seharusnya jangan dipaksakan, sebab kondisi air juga terbatas,” terangnya.
Dikatakan, pemerintah daerah berulang kali mengimbau petani untuk tidak menanam padi pada musim tanam ketiga ini dengan berbagai alasan yang sudah dijelaskan.
Pihaknya sampai mengundang BWS, BMKG untuk menjelaskan bagaimana ketersediaan air, perkiraan air hujan yang datang setiap musimnya telah dipetakan.
”Sehingga kita berani tanam padi pada musim tanam pertama dan kedua,” bebernya. (ewi/r11)
Editor : Kimda Farida