Lombok Post-DPRD Lombok Tengah (Loteng) menyoroti ribuan warga Gumi Tatas Tuhu Trasna memilih menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) tahun ini.
Bahkan, Loteng menjadi urutan enam nasional sebagai daerah dengan jumlah penempatan PMI terbanyak.
Dan menjadi urutan kedua se-NTB setelah Lombok Timur.
Anggota DPRD Loteng Ahmad Syamsul Hadi mengatakan, banyaknya warga Loteng yang menjadi PMI adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Namun apa yang menjadi penyebabnya harus dapat dipastikan.
“Berapa pengangguran terbukanya, setengah tertutupnya berapa. Nah, ini yang mesti dipastikan,” ucapnya pada wartawan, Kamis (10/10).
Menurutnya, jika setiap tahun jumlah warga yang menjadi PMI meningkat sampai berada diperingkat keenam nasional, maka pemerintah daerah (pemda) harus red signal atau sudah tanda merah.
“Pemda harus periksa setiap desa, desanya ngapain, camatnya juga ngapain,” imbuhnya.
Artinya, Pemda Loteng harus berfikir keras untuk menekan angka warga Loteng menjadi PMI keluar negeri.
Mulai dari penyediaan lapangan kerja, peningkatan kualitas kerja baik soft skill maupun hard skill.
“Berikan pekerjaan sesuai kemampuan, kan kita punya BLK (balai latihan kerja, red) ini harus dimanfaatkan,” tegas politisi NasDem ini.
Selain itu, pemda juga harus meningkatkan taraf hidup yang layak kepada masyarakat.
Jika tahun ini menargetkan skala 7 maka tahun depan harus meningkat menjadi 7,5 atau 8.
“Kalau kita menemukan warga yang menjadi PMI terus meningkat setiap tahunnya, masyarakat harusnya bertanya,” ucap Memet akrab disapa.
Memet tak menampik, jika ketersediaan lapangan pekerjaan di Loteng masih kurang.
Tetapi dengan hadirnya kawasan selatan dan utara yang kian berkembang, seharusnya pemda Loteng bisa lebih sigap pada lapangan pekerjaan.
“Atau mungkin etos disiplin kerja kita yang kurang dan tidak ahli dibidangnya, itu yang repot,” cetusnya.
Terpisah, Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lombok Tengah (Loteng) Supriandi mengatakan, berdasarkan data tahun 2022 dan 2023 jumlah warga Loteng yang bekerja keluar negeri menjadi PMI sebanyak 10 ribu hingga 11 ribu per tahun.
“Sedangkan untuk tahun 2024, yang sudah menjadi PMI sebanyak 6.351 orang dari 7.292 orang yang telah melakukan pendaftaran,” jelasnya.
Adapun negara tujuan PMI asal Loteng ini, kata dia, antara lain, Malaysia, Arab Saudi, Taiwan, Hongkong, Singapura dan Jepang. Sedangkan untuk jenis pekerjaan yang dominan adalah perkebunan, ruamh tangga dan cleaning service.
“Negara tujuan terbanyak tetap Malaysia,” imbuh Supriandi.
Saat ini, pemda berupaya mencegah pengiriman PMI secara illegal.
Dengan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat maupun melibatkan pemerintah desa serta semua pihak.
Pencegahan ini pun butuh kolaborasi semua pihak agar taka da lagi warga bekerja menjadi PMI secara illegal.
“Kami berharap warga tetap berangkat secara resmi, sehingga aman sejak berangkat maupun saat penempatan kerja hingga kepulangan,” ucapnya. (ewi)
Editor : Kimda Farida