Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cara Aisyah Odist Memanfaatkan Limbah Daun Nanas, Diolah Menjadi Benang dengan Kualitas Terbaik untuk Kain Tenun Lombok

Lestari Dewi • Jumat, 20 Desember 2024 | 15:44 WIB

 

MANFAATKAN LIMBAH: Founder PT Pinolo Aisyah Odist menunjukkan dua ikat benang dari limbah daun nanas untuk ditenun menjadi kain di Dusun Ketangga, Desa Sukarara, Loteng, belum lama ini.
MANFAATKAN LIMBAH: Founder PT Pinolo Aisyah Odist menunjukkan dua ikat benang dari limbah daun nanas untuk ditenun menjadi kain di Dusun Ketangga, Desa Sukarara, Loteng, belum lama ini.
 

LombokPost--Sepak terjang Aisyah Odist tidak hanya bagaimana membangun dan mengelola Bank Sampah.

Namun bagaimana limbah sampah mampu menghasilkan karya luar biasa.

Salah satunya menyulap limbah daun nanas menjadi benang untuk menenun kain.

-------------------------

SIAPA yang tidak mengenal Aisyah Odist? Srikandi lingkungan yang mengubah sampah menjadi peluang usaha melalui Bank Sampah.

Kini karya terbarunya menggeluti dunia industrialisasi yang mampu menghasilkan karya yang sangat luar biasa.

Bagaimana tidak, pendiri Pinolo (Pinnaple of Lombok) di Dusun Ketangga, Desa Sukarara, Lombok Tengah (Loteng) mampu menyulap limbah daun nanas menjadi serat-serat benang yang digunakan untuk menenun kain khas Lombok.

“Untuk satu kilogram serat kain yang dibutuhkan bisa menghabiskan satu kwintal daun nanas. Setelah itu kainnya bisa diolah menjadi kain tenun, tas, dompet, hiasan dinding dan kreasi lainnya,” ungkapnya pada Koran ini belum lama ini.

Dari hasil produksi limbah daun nanas, kata dia, mampu membuka lapangan pekerjaan dan menyatukan beberapa penenun di Gumi Tastura untuk menghasilkan kain dan baju.

Usaha ini sudah digelutinya selama empat tahun terakhir.

“Nanas ini cukup banyak, limbahnya apalagi. Kenapa tidak kita manfaatkan, dari proses produksinya bisa menyerap tenaga kerja, pemintalan hingga menjadi kain tenun misalnya. Untuk mewarnai benang daun nanas pun kita gunakan pewarna alami,” ungkap wanita asal Ampenan, Kota Mataram ini.

Hasil kreasi limbah daun nanas, kata dia, sudah tersebar ke sejumlah pasar internasional.

Selain Indonesia, ada Australia, Jepang, Belanda. Ketiga negara itu memiliki minat tinggi dari hasil kriya limbah daun nanas.

“Apalagi ini satu-satunya di Lombok, sudah dipatenkan produk serat daun nanas jadi ciri khas Lombok. Kualitasnya juga bagus (tidak cepat putus) coba saja,” tutur Aisyah menunjukkan seikat benang.

Diakui, benang limbah daun nanas ini tidak murah. Satu ikat benang bisa mencapai Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.

Dari hasil penggunaan benang menjadi kain tenun mampu meraup omzet Rp 570 juta per tahun.

“Jumlah karyawan bisa mencapai 10 hingga 15 orang, didominasi para wanita,” terangnya, (Lestari Dewi/r11)

Editor : Kimda Farida
#limbah #benang #sampah #sukarara #Daun nanas #tenun #Lombok