Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kerap Paksa Tamu Belanja Suvenir, Pelaku Wisata Keluhkan Pedagang Asongan di Pantai Kuta

Lestari Dewi • Sabtu, 28 Desember 2024 | 15:46 WIB
MENGAIS REJEKI: Seorang pedagang asongan kain saat menawarkan dagangannya kepada pengunjung lokal di Kuta Beach Park, The Mandalika, Loteng, Rabu (25/12).
MENGAIS REJEKI: Seorang pedagang asongan kain saat menawarkan dagangannya kepada pengunjung lokal di Kuta Beach Park, The Mandalika, Loteng, Rabu (25/12).

Lombok Post-Keberadaan pedagang asongan disekitar Kuta Beach Park (KBP) menjadi keluhan sejumlah pelaku wisata.

Penyebabnya, seringkali memaksa pengunjung untuk membeli barang dagangan mereka.

Mereka adalah pedagang asongan keliling yang menjual kain tenun, kaos, sarung hingga gelang.

Selain orang dewasa, banyak diantara mereka yang menjadi pedagang asongan adalah anak-anak sekolah.

Sales Manager & Operational Recharge Mandalika Lalu Putra Wijaya mengatakan, kendala restoran yang dihadapi di Mandalika hampir sama.

Yaitu, keberadaan pedaang asongan yang tidak ditertibkan oleh ITDC sebagai pengelola kawasan.

 Keberadaan pedagang asongan menjadi kendala utama karena selalu menjadi keluhan tamu yang berkunjung makan ke Recharge Mandalika Lombok.

“Yang paling krusial itu memang pedagang. Sangat berpengaruh karena komentar dari tamu baik domestik maupun internasional itu pasti ada. Karena kita sudah membuktikan dari ulasan-ulasan termasuk ulasan di Recharge di media sosial dan google,” bebernya pada Koran ini, Rabu (25/12).

Ia menuturkan, ketika tamu belum datang, belum makan, belum selesai makan pun sudah dihampiri.

Mereka dipaksa untuk membeli barang dagangan milik pedagang asongan. “Mudah-mudahan ada solusi baik dari pemerintah maupun teman-teman ITDC,” cetusnya.

Lalu Putra menegaskan, pihaknya sama sekali tidak mempersoalkan pedagang asongan untuk mencari nafkah di Kuta Beach Park, The Mandalika.

Baca Juga: Solusi Konektivitas Pariwisata Bali-Lombok, Kementrian KKP Bangun Dermaga Apung Gili Gede Tahun Depan

Namun bagi Putra, hal yang terpenting adalah pedagang harus tahu adab dan tata cara yang baik kepada tamu yang datang.

Ia mencontohkan, bagaimana pedagang asongan melakukan pemaksaan kepada pengunjung sampai mereka mendapatkan keinginan mereka.

Selain itu, ketika setelah satu pedagang asongan dibeli barang dagangnnya, selanjutnya pedagang asongan lain akan datang ikut menyerbu.

Mereka kemudian akan terus memepet wisatawan tersebut hingga membuat wisatawan tersebut beranjak pergi dari kafe dan restoran karena risih. 

Mereka bahkan kadang membuntutinya sampai wisatawan tersebut naik ke mobil atau pindah ke tempat lain untuk menghindari pedagang.

“Pedagang asongan benar-benar jadi kendala utama. Sebab, saat satu yang dipanggil (sudah dibeli, red) semuanya merapat. Baik itu pedagang kain, pedagang gelang. Dan caranya kadang mereka maksa,” jelas Lalu Putra.

Bagi dia, hal tersebut membuat pengunjung menilai attitude dari pedagang agak kurang sehingga dapat membuat citra pariwisata di Mandalika menjadi buruk. 

Ia pun mengaku seluruh restoran terutama Recharge Mandalika, sangat terdampak dengan keberadaan pedagang asongan terutama karena berada langsung direct view tepat di pinggir Kuta Beach Park.

Dirinya berharap agar ITDC punya solusi untuk menyelesaikan permasalahan pedagang asongan. Mengingat Mandalika langkah demi langkah sudah mulai maju tamu dari domestik maupun internasional.

“Hingga saat ini dari ITDC belum ada tindakan. Kami juga mengharapkan agar diprioritaskan kebersihan. Namun ya Alhamdulillah sejauh ini Kuta Mandalika ada peningkatan untuk kebersihan,” kata dia.

Terpisah, Bupati Loteng Lalu Pathul Bahri menuturkan, para pedagang asongan baik yang dewasa maupun anak-anak telah diberikan edukasi ketika menghadapi wisatawan yang datang berkunjung di Pantai Kuta Mandalika atau sekitarnya.

“Memberikan edukasi ini tidak hanya melekat pada Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa saja, tetapi kita semua khususnya pelaku wisata,” singkatnya. (ewi)

Editor : Kimda Farida
#Edukasi #Pemda Loteng #Mandalika #Kuta #pedagang asongan #Bupati Loteng #ITDC #Lalu Pathul Bahri #pelaku wisata #KEK Mandalika