Yuni Sulfia Hariani adalah inisiator pendaftaran hak KIK tiga kuliner khas Desa Wisata Bonjeruk. Lama menimba ilmu di luar daerah, Yuni memutuskan pulang kampung memberdayakan perempuan dan kelola desa wisata.
----------------------------------------------
TEPUK tangan meriah menandakan usainya kegiatan penyerahan hak Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum (Kemenkum) NTB kepada Desa Bonjeruk.
Desa yang masuk Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah ini memboyong tiga sertifikat sekaligus terhadap kuliner khas Desa Bonjeruk. Yaitu ayam merangkat, sate kuncung, dan jamu serbat.
Inisiator pendaftaran hak KIK ini adalah seorang perempuan bernama Yuni Sulfia Hariani. Menjadi pengelola Desa Wisata Bonjeruk sudah dilakoninya cukup lama.
Semua berawal dari Direct Message (DM) pada akun Instagram milik Mr Usman, tokoh pemuda Desa Bonjeruk.
Kala itu, Desa Bonjeruk mendapat anugerah sebagai desa wisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.
Saat itu dirinya sedang ikut suami yang mendapat tugas kerja di PT Freeport Indonesia, Papua. Walau merasa secara perekonomian sudah mapan di sana, masih merasa ada yang kurang dengan hidupnya. Ilmu yang dimiliki tidak bisa disalurkan dengan semestinya.
“Ada ruang yang kosong di sana, karena hidupnya gitu-gitu aja kayak robot. Sudah tahu kegiatan kita selama setahun itu mau apa. Sehingga saya berpikir, ah pulang saja ke Lombok. Lombok ini daerah pariwisata dan saya tidak mau hanya menjadi penonton,” ucap Yuni wanita asal Pengenjek itu.
Alumnus S1 Universitas Mataram dengan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, dilanjutkan pendidikan Strata2 di salah satu perguruan tinggi di Bali, Yuni ingin ilmu yang dimiliki berguna.
Bisa diterapkan dalam kehidupan dan berguna membangun pariwisata daerah, khususnya di Gumi Tatas Tuhu Trasna.
“Setelah saya DM dan mendapat jawaban dari Mr Usman, saya pun pulang bersama suami. Kami mulai membangun kehidupan awal di Lombok Tengah,” ucap ibu satu anak ini.
Terjun mengelola Desa Wisata Bonjeruk, dirinya fokus memberdayakan perempuan dengan branding Empowering Women.
Yaitu, proses memberikan perempuan hak dan kesempatan yang sama.
Serta meningkatkan kemampuan mereka untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik.
“Ini bertujuan untuk menciptakan kesetaraan gender dan memungkinkan perempuan untuk mencapai potensi penuh mereka.
Itu sebabnya kenapa di sini sekitar 75 persen perempuannya menjadi women guide, dengan adanya pariwisata kami ingin perempuan bisa meningkatkan perekonomiannya,” beber Yuni.
Yuni pun mencontohkan pada produk jamu serbat. Selain diolah menjadi minuman kesehatan untuk menyambut para wisatawan, jamu serbat ini juga sudah berbentuk bubuk.
Memudahkan pengunjung bisa menyeduhnya di rumah. “Kerupuk pun kita ganti ya, menjadi keripik talas. Sehingga secara ekonomi nilai jualnya meningkat,” terangnya.
Suksesnya prestasi ini ucap Yuni, tidak lepas dari ilmu, wawasan, serta jaringan yang ia miliki di bangku kuliah. Sebagai akademisi ia merasa diuntungkan, sedangkan sisi lain perempuan masih dipandang sebelah mata pada strata sosialnya.
“Dengan pendidikan ini cukup memudahkan saya untuk masuk ke pergaulan luar, artinya memiliki networking bagus pada sejumlah ekspatriat yang memiliki nama di Indonesia,” beber Yuni.
Sebab ketika berkenalan dan bergaul dengan para ekspatriat ini, kata dia, mereka juga memiliki jaringan cukup luas.
Ada yang mengenal NGO atau pegiat-pegiat lingkungan dan pariwisata. “Secara tidak langsung mereka juga yang membantu saya mendatangkan konsumen atau wisatawan datang berkunjung ke Bonjeruk atau Loteng pada umumnya,” tutup dia. (LESTARI DEWI/r6)
Editor : Prihadi Zoldic