Keris bukan sekadar senjata. Ia adalah nafas peradaban, simbol kehormatan, dan jembatan yang menghubungkan dunia nyata dengan semesta spiritual. Hal ini yang hendak disampaikan Paguyuban Tangguh Trasna dalam pameran keris di Mandalika Expo 2025.
-----
LANTUNAN musik Gendang Beleq dari Suku Sasak menggema di Bencingah Alun-Alun Tastura, Kota Praya. Tabuhan gendang yang enerjik berpadu dengan rinceq (gemerincing), alunan suling, dan gong.
Irama gagah yang dulu mengiringi prajurit ke medan perang kini menyambut langkah Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menelusuri deretan stand keris.
Di tengah alun-alun, ratusan bilah keris berjajar rapi.
Bukan sekadar koleksi, melainkan sebuah galeri yang menghadirkan Kedigdayaan Nusantara.
Setiap bilah yang terpajang di etalase kaca panjang seolah memancarkan auranya sendiri.
Wujudnya gagah, bilah metaliknya beriak halus seperti aliran sungai kuno.
Lekukannya ramping dengan sarung berukir detail. Sebuah simbol spiritual yang menyimpan bisikan sejarah dan filosofi dari pandai besi yang menciptakannya.
Di sekitar etalase, sejumlah pria berpakaian adat Sasak lengkap, berdiri tegak sebagai penjaga dan narator.
Mereka bukan sekadar pemandu, tetapi penjaga warisan yang menjelaskan asal-usul, filosofi, dan tuah setiap pusaka kepada para tamu penting.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri tampak khidmat menatap keris jenis Tilam Upih dari Lombok yang sederhana namun sarat makna.
Salah satu penjaga adat mendekat, tangannya bergerak perlahan di atas kaca.
“Bapak, keris ini bukan hanya senjata,” ujarnya dengan nada rendah penuh hormat. “Ia penanda status sosial tertinggi. Bentuknya sederhana mengajarkan kepemimpinan yang merakyat, tetapi pamornya mengingatkan pada tanggung jawab yang sakral. Keris ini tak terpisahkan dari pakaian adat karena mewakili jiwa seorang pemimpin.”
Bupati tampak mengangguk pelan.
Ia tak hanya melihat sebilah besi, tetapi arsip budaya yang hidup.
Pameran ini seolah menjembatani dua dunia, masa lalu yang agung dan masa kini yang berkuasa.
“Keris ini bagian dari budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Ternyata wisatawan asing sangat menyukai keris-keris ini, (ke depan) dilaksanakan di pesisir pantai,” ujar bupati.
Ketua Panitia Pameran Keris Lalu Ade Sukmayogi mengatakan, bagi masyarakat Sasak Gumi Tastura, keris adalah pusaka hidup.
Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari pakaian adat, penanda status sosial, sekaligus alat utama dalam berbagai upacara sakral.
Kehadirannya melambangkan kekuatan dan kehormatan pemakainya, mencerminkan jati diri Suku Sasak yang berakar kuat pada tradisi dan simbol spiritual yang dipercaya memiliki tuah dan kekuatan magis.
Eksistensi keris di Lombok Tengah paling terang dalam ritual tahunan “Bisoq Keris” atau mencuci keris, yang dilaksanakan setiap awal Bulan Muharram dalam kalender Hijriah.
Kini, keberadaannya tak hanya dijaga lewat ritual kuno.
Di tengah arus modernisasi, para pencinta dan perajin keris terus berupaya melestarikannya.
Paguyuban keris aktif menggelar pameran dan bursa, memperkenalkan pamor dan filosofi dapur keris Sasak kepada masyarakat dan wisatawan, termasuk di kawasan Mandalika.
Tak lama lagi, akan hadir showroom keris di sekitar Bandara Lombok.
“Yang menarik, semangat melestarikan budaya adiluhung ini bahkan telah merambah ke tangan anak-anak muda,” katanya.
Editor : Kimda Farida