LombokPost-Badan Perencanaan, Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Lombok Tengah menggelar Seminar Nasional dengan tema Membangun Daya Saing dan Kemandirian Daerah Melalui Pariwisata Berkelanjutan.
Seminar ini berkolaborasi dengan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Islam Al Azhar yang digelar di JM Hotel Kuta Mandalika, pada Rabu (12/11).
Kegiatan pun dihadiri langsung oleh Sekretaris Daerah Lombok Tengah Lalu Firman Wijaya, Kepala PR PDN-BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko, Rektor Universitas Islam Al-Azhar Dr Ir Muh Ansyar, serta 75 peserta dari unsur pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri pariwisata dan ekonomi kreatif, kelompok sadar wisata hingga tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Kepala Bapperida Lombok Tengah Lalu Wiranata menuturkan, seminar nasional diselenggarakan sebagai sebuah langkah strategis dan taktis yang berangkat dari analisis mendalam terhadap peta pariwisata global dan potensi Lombok Tengah.
Sehingga melalui seminar ini diharapkan sebagai wadah strategis untuk memperkuat sinergi kebijakan, memperkaya wawasan, serta merumuskan arah pembangunan berbasis data yang berkelanjutan dan inklusif.
Kemudian, meningkatkan pemahaman pemangku kepentingan terhadap konsep dan praktik pariwisata berkelanjutan.
Menjadi forum diskusi lintas sektor untuk membangun model pengelolaan pariwisata berbasis bukti.
Selanjutnya, mengidentifikasi potensi, tantangan, serta strategi dalam mengoptimalkan nilai ekonomi sektor pariwisata daerah.
Serta merumuskan arah kebijakan daerah dalam memperkuat kemandirian dan daya saing ekonomi berbasis sektor pariwisata berkelanjutan.
“Seminar ini menjadi momentum penting dalam memperkuat arah kebijakan pembangunan pariwisata Lombok Tengah menuju kemandirian dan daya saing berkelanjutan. Melalui kolaborasi dan pemanfaatan data yang tepat, potensi besar Lombok Tengah diharapkan dapat dikonversi menjadi sumber kesejahteraan masyarakat dan peningkatan PAD daerah,” ungkapnya.
Sekretaris Daerah Lombok Tengah Lalu Firman Wijaya menyampaikan, realisasi pajak dan retribusi sektor pariwisata terhadap PAD Lombok Tengah tiap tahunnya mengalami peningkatan.
Baca Juga: SUDAH CAIR! 64.062 Warga Lombok Tengah Terima BLTS Rp 900 Ribu
Pada tahun 2022 mencapai 30-35 persen, tahun 2023 alami kenaikan mendekati 50 persen.
Selanjutnya tahun 2024, realisasinya mencapai 100 persen lebih dimana proporsi meningkat tajam hingga 80 persen.
“Bahkan dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) saja yang merupakan dampak dari sektor pariwisata turut berkontribusi besar mencapai 20 persen, ini melampaui realisasi pajak PBB-P2 (pajak bumi bangunan pedesaan dan perkotaan) yang awalnya penggerak utama PAD,” kata Sekda Firman.
Dikatakan, ada tiga strategi utama pada RPJMD Lombok Tengah dalam mendorong sektor pariwisata. Antara lain, memperkuat tata kelola pariwisata yang berkelanjutan berbasis data.
Artinya, ada peran akademisi turut berkontribusi pada sektor pariwisata dimana kajian akademisi yang dilakukan menggunakan norma-norma logika dan tren yang terjadi di masyarakat.
“Selanjutnya mengembangkan ekonomi kreatif di sektor pariwisata, kemudian memperkuat infrastruktur di semua destinasi wisata,” terangnya.
Rektor Universitas Islam Al-Azhar Dr Ir Muh Ansyar mengatakan, akademisi bukan hanya terlibat dalam pendidikan dan penelitian, namun memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan.
Pariwisata adalah salah satu penggerak ekonomi yang memiliki multiflier efek dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja dan memperkuat identias budaya dan sosial masyarakat.
Namun tantangan yang dihadapi saat ini, pertumbuhan pariwisata yang pesat tidak boleh mengabaikan kelestarian lingkungan dan nilai-nilai lokal.
Sebab itu konsep pariwisata berkelanjutan menjadi kontribusi utama yakni pembanguanan yang menyeimbangkan ekonomi, sosial dan ekologis.
“Kita harapkan lahirnya gagasan-gagasan kreatif, solusi konkret yang dapat menjadi dasar kebijakan pengembangan pariwisata daerah,” kata dia.
Kepala PR PDN-BRIN Mardyanto Wahyu Tryatmoko mengatakan, seluruh daerah dihadapi tantangan serius berupa pengurangan dana transfer ke daerah (TKD).
Menghadapi hal ini, setiap daerah harus mampu mengoptimalkan beberapa sektor sehingga memperoleh pendapatan dari sektor tersebut, termasuk sektor pariwisata.
“Ini menjadi tantangan semua daerah,” cetusnya.
Pantauan Lombok Post, diskusi dan tanya jawab selama seminar ini berjalan baik dan lancar dengan menghadirkan empat narasumber.
Antara lain, Asisten Deputi Manajemen Strategis Kementerian Pariwisata I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, Peneliti Muda Pusat Riset Pemerintahan Dalam Negeri BRIN Suci Emilia Fitri, Wakil Rektor III Unizar Fathurahman dan praktisi Askar DG Kamis.
Editor : Kimda Farida