LombokPost-Polemik kesenian Cilokak Modern Lombok atau Kecimol kembali mencuat. Para pelaku Kecimol yang tergabung dalam Asosiasi Kecimol (AK) NTB bahkan meminta Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Tengah Lalu Sungkul mundur dari jabatannya.
“Ketika masyarakat tidak terima produknya, ya seharusnya berbenah. Dengan tidak atau mundurnya saya sebagai kadis pariwisata, itu tetap tidak akan menjadikan Kecimol sebagai bagian budaya Sasak Lombok,” tegas Kadispar Lombok Tengah Lalu Sungkul pada wartawan, Selasa (18/11).
Baca Juga: Fraksi Nasdem-PKS Desak Transparansi Dana Hibah di APBD Lombok Tengah 2026
Sungkul menegaskan, aksi joget yang dilakukan dalam Kecimol menggambarkan budaya Jahiliyah. Ia menyebut, dalam pengajian yang diikutinya, aksi menari yang tidak senonoh sambil minum minuman keras kerap disinggung sebagai penggambaran masa Jahiliyah.
“Kecimol yang sekarang ini persis seperti yang digambarkan oleh tuan guru, yaitu penari dalam jaman Jahiliyah,” kata Sungkul.
Ia menilai, Kecimol masa kini berbeda dengan Cilokaq yang dilakukan Jero Base sebelum memasuki lingkungan pengantin perempuan dan bertemu orang tua, yang harus didahului dengan adat Sorong Serah Aji Krame.
Baca Juga: Aduh, Pasar Kuta Bikin Kumuh Kawasan Wisata Mandalika
“Apa yang dikatakan dalam Cilokaq itu, adat Sasak yang kita junjung sejak dahulu kala, Selaparang, Bayan, Pejanggik itu sama adatnya,” kata dia.
Menurutnya, kesenian adalah ruang masyarakat untuk berkreasi, namun tetap harus dibingkai adat istiadat, norma agama dan norma susila agar tidak berkembang liar, khususnya bagi anak-anak yang menontonnya.
“Itu mengapa Nabi Muhammad SAW turun ke muka bumi untuk memperbaiki akhlak jaman Jahiliyah,” ucap mantan Camat Pujut ini.
Editor : Jelo Sangaji