Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Musim Hujan, Volume Sampah Meningkat di Lombok Tengah

Lestari Dewi • Selasa, 16 Desember 2025 | 17:23 WIB
Sejumlah warga bergotong royong membersihkan drainase dan lingkungannya dari sampah di Kampung Jawa, Praya, Loteng, belum lama ini.
Sejumlah warga bergotong royong membersihkan drainase dan lingkungannya dari sampah di Kampung Jawa, Praya, Loteng, belum lama ini.

LombokPost-Memasuki musim penghujan, volume sampah di Lombok Tengah (Loteng) mengalami kenaikan sekitar 10 ton per hari.

Dari rata-rata 80 ton per hari di luar musim hujan, kini meningkat menjadi sekitar 90 ton per hari. Wilayah Kota Praya masih menjadi penyumbang volume sampah terbanyak.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Tengah Lalu Sarkin Junaidi mengatakan, kenaikan volume sampah harian dipicu kiriman sampah dari wilayah hulu. Sampah tersebut terbawa aliran air melalui sungai dan saluran drainase.

Kondisi itu diperparah oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai atau saluran drainase. Akibatnya, saat hujan turun, sampah terbawa ke wilayah hilir.

“Akibatnya, sejumlah wilayah Kota Praya kerap diterjang banjir. Karena tumpukan sampah yang masuk membuat air meluap,” kata dia pada koran ini, Senin (15/12).

Meski mengalami kenaikan, pihaknya mengaku masih mampu menangani pengangkutan sampah. Seluruh sampah masih dapat diangkut dan dikirim ke TPA Pengengat dengan jumlah armada yang tersedia.

“Hanya saja, kenaikan volume sampah tersebut turut meningkatkan kekhawatiran soal kondisi TPA Pengengat yang semakin menumpuk setiap hari,” bebernya.

Ia mengatakan, Pemkab Loteng belum mampu melakukan pengolahan sampah untuk menekan jumlah sampah yang masuk ke TPA. Sampah yang diangkut saat ini langsung dibuang ke TPA Pengengat tanpa melalui proses pengolahan.

“Sejauh ini kita belum memiliki fasilitas pengolahan sampah yang bisa mengurangi volume sampah. Kita baru bisa mengangkut sampah dari tempat pembuangan sampah sementara ke TPA saja. Belum sampai mengolahnya,” imbuh mantan Camat Kopang ini.

Pemkab Loteng berharap peran serta masyarakat untuk membantu mengurangi volume sampah dengan mengolah dan memilah sampah dari rumah tangga.

Sampah dapur atau sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah plastik bisa dipilah dan bernilai ekonomi.

“Lambat laun TPA Pengengat akan penuh juga, jika tidak ada upaya mengurangi volume sampah sejak dari rumah tangga,” kata Sarkin.

Meski ada rencana pembangunan TPA regional di setiap daerah oleh Pemprov NTB, menurutnya langkah tersebut bukan solusi jangka panjang. “Solusi yang paling efektif dalam menekan jumlah volume sampah, yakni dengan mengolah sejak dari rumah tangga,” katanya.

Sebelumnya, Kodim 1620/Loteng bersama masyarakat turun langsung membersihkan lingkungan permukiman, termasuk aliran sungai dan area sekitar permukiman warga dari sampah.

Dengan peralatan sederhana, anggota Kodim 1620/Loteng dan warga bahu-membahu mengangkat sampah, memangkas rumput liar, serta membersihkan selokan guna mencegah potensi banjir dan penyebaran penyakit.

“Bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan dan membersihkan sungai,” kata Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Kodim 1620/Loteng Kapten Inf Hernan.

Kebersihan lingkungan, terutama sungai, merupakan tanggung jawab bersama. Lingkungan yang bersih dan sehat diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, menciptakan suasana kampung yang nyaman dan aman, serta mencegah terjadinya banjir.

“Selain aman, kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kembali budaya gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia,” ucapnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Lombok Tengah #meningkat #musim hujan #Volume Sampah