LombokPost-Hujan lebat dengan intensitas tinggi menyebabkan sejumlah titik terendam banjir dan mengakibatkan air sungai meluap di Lombok Tengah (Loteng).
Kawasan Kuta Mandalika di Kecamatan Pujut dan Desa Mangkung di Kecamatan Praya Barat termasuk wilayah yang terdampak signifikan.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menjelaskan, banjir dipicu berbagai faktor, tidak semata-mata karena curah hujan tinggi. Namun, ia memastikan banjir di Loteng relatif cepat surut.
“Bukan meremehkan, tapi kalau ada banjir (paling lama) sehari. Tidak seperti tempat-tempat lain,” katanya pada wartawan, Selasa (16/12).
Menurut bupati, banjir merupakan persoalan kompleks yang melibatkan faktor alam dan ulah manusia. Selain hujan tinggi, ia menyebut sedimentasi sungai, drainase, serta kerusakan lingkungan sebagai penyebab utama.
“Banjir ini terjadi karena berbagai faktor. Ada sedimentasi sungai, penumpukan sampah, persoalan hutan serta bukit-bukit yang gundul akibat penebangan oleh oknum-oknum di masa lalu,” jelasnya.
Bupati menegaskan, penanganan banjir tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Ia mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengingat wilayah Loteng luas dan jumlah penduduk mencapai 1,1 juta lebih.
Menanggapi sebagian pihak yang menyebut pemerintah daerah lalai menangani banjir, ia menegaskan jajaran pemkab Loteng sejak awal turun langsung ke lapangan untuk pengecekan dan penanganan.
“Ada yang bilang pemerintah tidur, tapi kami sudah turun langsung untuk melihat kondisi di lapangan,” katanya.
Ke depan, Bupati Pathul berencana memperketat skema pemberian izin, khususnya terkait pemanfaatan hutan dan kawasan perbukitan, guna mencegah bencana serupa dan alih fungsi lahan yang berlebihan.
“Dengan kondisi hutan dan bukit yang sudah gundul, ke depan skema perizinan akan kita pikirkan agar lebih ketat,” imbuhnya.
Untuk mitigasi jangka pendek, pemkab Loteng memastikan pemantauan langsung di wilayah terdampak sebagai langkah awal penanganan dan antisipasi lanjutan. “Kami selalu imbau masyarakat, ayo bersama-sama jaga lingkungan, tidak buang sampah sembarangan,” tegas mantan anggota DPRD NTB ini.
Sementara itu, sebanyak 54 kepala keluarga (KK) di Dusun Mereneng, Desa Kuta, Pujut terdampak banjir pada Senin (15/12) sore. Banjir terjadi karena hujan lebat di dusun tersebut tidak mengalir maksimal melalui saluran air.
Kepala Dusun Mereneng Supriyadi mengatakan, air genangan telah surut namun menyisakan lumpur yang masuk ke rumah warga. “Sore itu hujan turun cukup lebat, ketika hujan sudah reda air berangsur-angsur surut. Tetapi dusun yang berbatasan dengan Dusun Baturiti masih tergenang air,” ucapnya.
Supriyadi menyebut banjir dipicu beberapa faktor, mulai dari alih fungsi lahan hingga bukit-bukit yang mulai ditanami pohon jagung. Namun, ia menilai saluran drainase tersumbat menjadi penyebab utama karena air hujan tidak mengalir maksimal.
“Drainase ini tertutup sedimentasi, sampah dari hulu yang turun ke hilir berupa bambu-bambu bekas penebangan warga untuk dijadikan ladang jagung. Bambu ditaruh di pinggir kali, terbawa air sungai ketika hujan, menyebabkan saluran atau drainase jadi tersumbat dan meluap ke rumah warga,” paparnya.
Banjir di ruas jalan Jurang Pepe, kata dia, terjadi karena drainase tertutup material bekas pembangunan rumah warga. Sehingga air hujan yang turun dari hulu membuat aliran air naik ke jalan raya.
Selain itu, banjir terjadi karena berkurangnya resapan air. Pembangunan di wilayah ini kebanyakan menggunakan paving block dan dirabat. “Banjir terjadi karena wilayah Dusun Mereneng, Baturiti dan Mengalung ini dataran rendah, bekas sawah dan ladang,” kata Ketua Forum Kadus Desa Kuta ini.
Editor : Akbar Sirinawa