LombokPost-Perbukitan di Dusun Belenje, Desa Serage, Praya Barat Daya, Lombok Tengah (Loteng), mendadak ramai.
Bukan oleh aktivitas wisata atau pertanian, melainkan puluhan warga yang berbondong-bondong mendulang emas di celah-celah bukit yang menyerupai aliran sungai kering.
Lokasi tambang ilegal itu hanya berjarak ratusan meter dari jalan raya desa, mudah dijangkau, dan nyaris tanpa pengamanan.
Sesampainya di lokasi, pemandangan tak biasa tersaji. Puluhan warga, laki-laki dan perempuan, berjibaku di antara tanah bukit.
Para pria menggali tanah dan bebatuan menggunakan linggis dan cangkul, membuka celah-celah sempit di lereng perbukitan.
Sementara kaum perempuan memilih lokasi bekas aliran air, mengais sisa tanah berlumpur berwarna cokelat dengan alat seadanya, berharap menemukan butiran emas yang tersisa.
Aktivitas mendulang ini berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Warga datang membawa perbekalan makan dan minum dari rumah, seolah bekerja seharian penuh.
Saparuddin, warga Desa Batujangkih, mengaku sehari-hari bekerja sebagai buruh tani.
Ia sudah dua hari datang ke lokasi mendulang emas bersama teman-temannya.
Ia nekat ikut mendulang karena harga emas sedang naik dan hasilnya dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Satu gram emas yang sudah jadi kalau dijual sekitar Rp 2,5 juta,” tuturnya kepada Lombok Post di sela-sela mendulang bongkahan tanah bukit, Selasa (3/2).
Untuk masuk ke lokasi, warga hanya diminta membayar biaya parkir di rumah penduduk sekitar.
Setelah itu, mereka bebas menuju perbukitan dan memilih titik galian masing-masing.
Tidak ada papan peringatan atau rambu keselamatan. Yang terlihat hanya deretan lubang galian dan tanah bukit yang perlahan tergerus.
“Bebas mau mendulang di mana, selama itu kosong, yang mau gali pakai linggis silakan. Tidak ada saling ribut,” tambahnya.
Sebagian besar warga yang mendulang emas mengaku berprofesi sebagai buruh tani.
Ketidakpastian penghasilan, ditambah harga emas yang melonjak, menjadi alasan utama mereka turun ke bukit.
Mendulang emas dipandang sebagai cara cepat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mulai dari biaya makan hingga kebutuhan rumah tangga.
“Sekarang harga emas mahal. Kalau dapat sedikit saja sudah lumayan untuk belanja,” ujar Sari, warga Gerung Lombok Barat, sambil menunjukkan serpihan emas yang telah dikumpulkannya.
Namun, di balik geliat ekonomi dadakan itu, tersimpan risiko besar. Lokasi galian berupa celah-celah bukit tanpa pengaman berpotensi longsor kapan saja.
Air bercampur tanah yang mengalir di dasar celah meninggalkan warna cokelat pekat, menandakan kerusakan lapisan tanah yang terus terjadi.
Aktivitas ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan keselamatan warga, terutama perempuan yang berada di sekitar lokasi.
Selama harga emas terus merangkak naik dan lapangan kerja tetap terbatas, perbukitan Serage diperkirakan akan terus dipadati warga yang menggantungkan harapan hidup di sela-sela tanah bukit.
“Kami yang perempuan tidak akan di sini mbak kalau ada pekerjaan di desa-desa kami,” cetus Maimunah, warga Desa Rambitan.
Babinsa dan Bhabinkamtibmas di wilayah tersebut mengakui tidak bisa berbuat banyak. Aksi mendulang emas ini telah berlangsung hampir sebulan.
Namun, mereka hanya dapat memberikan imbauan kepada warga agar tetap menjaga ketertiban dan keselamatan selama berada di lokasi tambang.
“Kami hanya bisa mengimbau agar tidak gaduh dan saling mengingatkan soal keselamatan. Untuk penutupan, kami belum bisa melakukan karena belum ada perintah dari pimpinan,” ujar Bhabinkamtibmas Desa Serage Aipda Indra Jaya Kusuma.
Menurut mereka, kewenangan penindakan dan penutupan tambang ilegal berada di tingkat atas.
Selama belum ada instruksi resmi, aparat di lapangan mengedepankan pendekatan persuasif guna mencegah konflik dan menjaga situasi tetap kondusif.
“Jadi kami hanya bisa mengimbau dan memantau,” sambung Babinsa Desa Serage Sertu Musa Retraubun.
Editor : Pujo Nugroho