LombokPost-Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah kembali menegaskan sikapnya soal keberadaan Bukit Seger dan Pantai Seger sebagai ruang sakral milik masyarakat Gumi Tatas Tuhu Trasna.
Kawasan yang selama ini menjadi pusat perayaan adat Bau Nyale itu dipastikan akan dikelola untuk kepentingan budaya dan kearifan lokal, bukan semata-mata kepentingan bisnis.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menyampaikan, Bukit Seger memiliki nilai historis dan spiritual yang tidak bisa dipisahkan dari tradisi Bau Nyale.
Karena itu, pemkab berkomitmen mempertahankan kawasan tersebut sebagai pusat kebudayaan masyarakat Sasak. Pengelolaan kawasan akan mulai difokuskan setelah proses hukum terkait status lahan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) rampung.
“Saya buka ini di depan InJourney, kawasan Bukit Seger harus menjadi milik masyarakat Lombok Tengah. Ini bukan sekadar bukit, tapi pusat tradisi dan identitas budaya Bau Nyale,” tegas Pathul pada Lombok Post, Senin (9/2).
Pemkab juga memastikan bahwa Bukit Seger dan Pantai Seger berada di luar Hak Pengelolaan Lahan (HPL) ITDC.
Kepastian ini memperkuat posisi pemerintah daerah untuk merancang pengelolaan kawasan secara mandiri dengan orientasi pelestarian budaya.
Sebagai bagian dari penguatan identitas kawasan, Pemkab mewacanakan pembangunan patung Putri Mandalika beserta empat pengiringnya.
Ikon tersebut direncanakan menjadi simbol budaya yang merepresentasikan nilai pengorbanan, persatuan, dan kearifan lokal yang melekat pada legenda Bau Nyale.
Meski demikian, persoalan lahan di Bukit Seger belum sepenuhnya tuntas.
Tercatat masih terdapat sengketa lahan seluas 6,5 hektare yang diklaim oleh sejumlah individu dan masuk dalam catatan HPL Pemprov NTB. Saat ini, status lahan tersebut masih dalam proses pendalaman oleh BPN.
Untuk menunjang pengelolaan kawasan, Pemkab Lombok Tengah juga merencanakan perbaikan total jembatan akses menuju Pantai Seger agar lebih layak dan aman dilalui masyarakat maupun wisatawan.
Ke depan, Pemkab akan melibatkan budayawan dan tokoh adat dalam merumuskan konsep pengelolaan kawasan agar pembangunan tetap sejalan dengan nilai-nilai budaya dan tidak menghilangkan kesakralan tradisi Bau Nyale.
“Setelah nanti jadi milik Lombok Tengah, kita akan rembuk, duduk bersama untuk kembali menyelesaikan perbaikan ini,” singkatnya.
Terpisah, para pedagang di sekitar Pantai Seger sangat berharap pemerintah bisa memperbaiki jembatan yang kualitas permanen.
Pedagang sudah jenuh melihat perbaikan hanya dilakukan menjelang event Bau Nyale saja, itu pun bersifat semi permanen.
“Kita maunya dibuat permanen, lihat saja itu pakai alas seperti plat besi dan kayu-kayu,” ucap Miane pedagang setempat.
Editor : Jelo Sangaji