Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Di Balik Asap Telur Asin Bakar dari Jurang Jaler, Usaha Rumahan Junaidi Mengubah Tungku Drum Menjadi Sumber Penghidupan

Lestari Dewi • Jumat, 13 Februari 2026 | 10:20 WIB
Junaidi menunjukkan cara memproduksi telur asin bakar sederhana yang diolahnya di Desa Jurang Jaler, Praya Tengah, Lombok Tengah.
Junaidi menunjukkan cara memproduksi telur asin bakar sederhana yang diolahnya di Desa Jurang Jaler, Praya Tengah, Lombok Tengah.

 

Di balik rumah bambu sederhana milik Junaidi di Desa Jurang Jaler, asap tipis dari tungku drum bekas mengepul setiap pagi, menandai dimulainya produksi telur asin bakar. Dari proses tradisional itulah, Junaidi mengolah telur asin dengan cara dibakar, bukan direbus, hingga menjadi usaha rumahan yang menghidupi keluarganya.

-----

PAGI di Desa Jurang Jaler selalu datang dengan tenang. Udara masih sejuk saat langkah menyusuri jalan setapak yang kini telah tertata rapi dengan paving block. Di kiri dan kanan jalan, pepohonan dan tanaman pekarangan tumbuh asri, menghadirkan suasana teduh yang jarang ditemui di tengah hiruk-pikuk kota. Dari kejauhan, aroma samar asap kayu mulai tercium, tanda aktivitas dapur tradisional telah dimulai.

Di ujung jalan berdiri sebuah rumah kecil berbahan anyaman bambu. Bangunannya sederhana, nyaris menyatu dengan lingkungan sekitar. Namun dari tempat inilah lahir olahan telur asin yang berbeda dari kebanyakan, telur asin bakar, kreasi Junaidi, warga setempat yang perlahan mengubah tradisi menjadi peluang ekonomi.

Di halaman rumah bambu itu, beberapa drum bekas berdiri tegak, disulap menjadi tungku pembakaran. Api menyala perlahan di bagian bawah, menghangatkan telur-telur yang tersusun rapi di dalamnya. Tak ada panci besar atau dandang rebusan. Prosesnya sepenuhnya mengandalkan pembakaran tradisional, menghasilkan aroma khas yang menyatu dengan udara pagi desa.

Sebelum masuk ke tungku, telur bebek pilihan dicuci bersih, lalu dibalut adonan abu yang telah dicampur garam. Campuran sederhana itu menjadi kunci proses fermentasi. Setelah dibungkus rapi, telur langsung dimasukkan ke dalam drum dan dibakar tanpa melalui proses perebusan seperti telur asin pada umumnya.

“Kalau dibakar, rasanya lebih gurih dan aromanya beda,” kata Junaidi pada wartawan.

Junaidi terampil mengatur kayu bakar. Tangannya cekatan, terbiasa menghadapi panas tungku. Ia mengawasi api dengan saksama, memastikan suhu tetap stabil agar telur matang merata. Dalam satu kali pembakaran, Junaidi mampu menghasilkan sekitar empat setengah tray telur asin bakar.

Hasilnya tidak hanya untuk konsumsi warga sekitar, tetapi juga memenuhi permintaan toko-toko di wilayah Mataram. Dari satu kali proses pembakaran, keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp 600 ribu, angka yang cukup berarti bagi usaha rumahan berskala desa. “Per butir yang sudah dibakar ini Rp 5 ribu,” ucapnya.

Telur asin bakar buatan Junaidi perlahan menemukan pasarnya sendiri. Teksturnya lebih kering, rasanya lebih pekat, dengan sentuhan aroma asap yang khas. Keunikan itulah yang membuatnya berbeda dan mudah dikenali, bahkan oleh pembeli yang baru pertama kali mencicipinya.

Editor : Kimda Farida
#Lombok Tengah #telur asin bakar #Praya Tengah