LombokPost-Ketersediaan bahan pokok menjelang Hari Raya Idul Fitri di Lombok Tengah dipastikan masih aman.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Tengah mencatat stok komoditas utama seperti beras, minyak goreng, gula pasir hingga tepung terigu masih mencukupi kebutuhan masyarakat.
Sekretaris Disperindag Loteng Roro Sri Mulyaningsih mengatakan, secara umum harga kebutuhan pokok masih relatif stabil.
Meski demikian, beberapa komoditas mulai mengalami kenaikan harga, salah satunya gula pasir.
“Untuk gula pasir ada kenaikan dari Rp 17 ribu per kilogram menjadi Rp 18 ribu per kilogram,” ujar Ningsih, sapaan akrabnya, kepada wartawan, Senin (9/3).
Sementara harga beras di pasaran bervariasi tergantung jenisnya, mulai dari beras medium hingga premium.
Untuk minyak goreng, masyarakat masih bisa mendapatkan minyak goreng bersubsidi MinyaKita di agen Bulog dengan harga Rp 15.750 per liter.
Sedangkan minyak goreng merek lain dijual dengan kisaran Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per liter.
Guna membantu masyarakat memenuhi kebutuhan menjelang lebaran, Disperindag Loteng bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) akan menggelar bazar pangan murah selama empat hari.
Berbagai komoditas pokok akan dijual dengan harga lebih rendah karena mendapat subsidi dari pemerintah daerah.
“Mulai dari telur ayam, hasil perikanan, beras, gula pasir, minyak goreng hingga sayur-mayur akan kita hadirkan. Harganya tentu lebih murah dari harga pasar,” jelasnya.
Baca Juga: ITDC Hadirkan Promo Spesial, Sambut Ramadan, Nyepi, dan Idulfitri 1447H, Hotel di Tiga Kawasan
Di sisi lain, Disperindag juga menyoroti lonjakan harga cabai rawit yang dalam beberapa hari terakhir mengalami kenaikan cukup tajam.
Saat ini harga cabai rawit di Loteng mencapai Rp 110 ribu per kilogram, naik dari sebelumnya Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram.
Ningsih menjelaskan, kenaikan harga disebabkan terbatasnya produksi cabai dari petani lokal.
Meski pasokan dari luar daerah mulai masuk ke pasar, komoditas ini memiliki daya tahan relatif singkat sehingga belum mampu menekan harga secara signifikan.
Ia memperkirakan dalam sepekan ke depan harga cabai rawit masih berpotensi bertahan di level tinggi.
“Produksi masih terbatas, namun kita harapkan beberapa minggu ke depan sudah mulai panen,” katanya.
Selain memantau harga komoditas pangan, Disperindag Loteng juga melakukan pengawasan terhadap kelayakan konsumsi bahan makanan.
Pengawasan difokuskan pada produk yang banyak dijadikan parsel lebaran seperti aneka kue kering. Pengawasan dilakukan secara bertahap dengan menyasar sejumlah ritel modern.
Jika ditemukan bahan makanan yang disimpan tidak sesuai standar atau tidak layak, pihaknya akan memberikan teguran keras kepada pengelola.
Tahun lalu, dinas sempat menemukan bahan makanan yang disimpan di gudang dengan kondisi kurang layak dan di sekitarnya terdapat kotoran.
“Itu sudah kami tegur. Tahun ini insyaallah tidak ada lagi yang kita temukan,” tutupnya.
Sebelumnya, Ketua Komisi II DPRD Lombok Tengah Ferdian Elmansyah mengatakan, kenaikan harga cabai sebelumnya juga disebabkan pola distribusi, di mana cabai harus piknik terlebih dahulu ke pasar-pasar di kabupaten/kota lain.
“Yang perlu ditekankan adalah pola distribusinya, bukan berarti beli murah di petani, harga tetap sesuai di tingkat petani. Pola distribusi ini seharusnya dipikirkan pemkab Lombok Tengah bukan mendatangkan (cabai rawit) dari luar,” katanya.
Melihat isu ini selalu berulang setiap tahun, kata Ferdian, dari sisi jangka pendek intervensi ini bagus dilakukan.
Tetapi, solusi jangka panjang juga mesti dipikirkan pemerintah daerah. “Bagaimana pola distribusi ini tidak terlalu panjang,” kata dia.
Editor : Kimda Farida