LombokPost - Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah membawa dampak berbeda bagi pelaku usaha di Lombok Tengah (Loteng). Di satu sisi, perajin kerajinan tangan atau kriya mendapat berkah. Namun, sektor pangan ekspor justru mengalami kelesuan produktivitas.
“Saat ini momentumnya ada di produk kerajinan. Kenaikan harga dolar justru mendongkrak permintaan ekspor kerajinan kita, khususnya Amerika Serikat dan Korea Selatan,” ujar Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Loteng Baiq Yuliana Safriani, Selasa (23/6).
Kondisi sebaliknya terjadi pada sektor pangan lokal. Sebelum dolar menguat, komoditas pangan seperti kemiri menjadi primadona pengiriman ke luar daerah dan luar negeri. Namun saat ini, permintaannya menurun drastis.
Menurut Yuliana, penurunan permintaan ekspor pangan dipicu meroketnya harga bahan baku di dalam negeri akibat penyesuaian ekonomi global. Akibatnya, biaya produksi membengkak dan memukul produktivitas pelaku usaha pangan di daerah.
Merespons kondisi ini, Disperindag Loteng mendorong para perajin memanfaatkan momentum dengan meningkatkan kapasitas produksi. Meski demikian, Baiq Yuliana mengingatkan perajin agar tidak berlebihan menerima pesanan.
Baca Juga: Pemkab Loteng Tak Tegas Hadapi Alfamart
Disperindag menekankan dua hal penting bagi perajin di tengah penguatan dolar. Pertama, menjaga kualitas produk. Jangan sampai demi mengejar kuantitas, detail dan mutu kerajinan yang menjadi ciri khas Loteng justru diabaikan. Kedua, mengukur kapasitas kemampuan.
“Kami berharap peluang dari kenaikan dolar ini dimanfaatkan dengan bijak. Tingkatkan produksi, tapi tetap kontrol kapasitas,” kata dia.
Baca Juga: BIZAM Tuntaskan Debarkasi Haji Lombok
Di tengah sektor pertambangan yang mendominasi perdagangan luar negeri, geliat sektor nontambang NTB pada April 2026 tetap menunjukkan potensi. Meski secara volume masih tertinggal jauh dari komoditas galian, produk alternatif hasil bumi dan laut NTB menjadi penopang ekonomi kerakyatan yang langsung menyentuh pelaku usaha lokal.
“Kenaikan dolar Amerika Serikat ini diprediksi akan memicu gairah para nelayan budi daya dan perajin lokal untuk terus menggenjot kualitas produk mereka agar semakin kompetitif di pasar global,” ucap Kepala BPS NTB Wahyuddin.
Editor : Akbar Sirinawa