Jaga Rumah Adat, Desa Wisata Sasak Ende Perkuat Mitigasi Bencana

Lestari Dewi • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:18 WIB
Dua orang wisatawan berjalan usai mengunjungi Desa Wisata Sasak Ende di Desa Sengkol, Pujut, Lombok Tengah, Rabu (26/8).
Dua orang wisatawan berjalan usai mengunjungi Desa Wisata Sasak Ende di Desa Sengkol, Pujut, Lombok Tengah, Rabu (26/8).

 

LombokPost - Pengelola kawasan Desa Wisata Sasak Ende di Desa Sengkol turut mengantisipasi kebakaran. Langkah itu dilakukan menyusul kebakaran yang terjadi di Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Lombok Tengah, beberapa waktu lalu.

Kawasan ini memiliki arsitektur serupa dengan bangunan berbahan anyaman bambu dan atap ilalang. Karena itu, kewaspadaan kini ditingkatkan.

“Antisipasi kita tingkatkan dengan adanya musibah tersebut,” kata pemandu wisata Sasak Ende Kadir kepada Lombok Post, Rabu (26/8).

Baca Juga: Wujud Kepedulian, Pullman Lombok Salurkan Bantuan Darurat untuk Desa Wisata Sade

Langkah pencegahan utama difokuskan pada aktivitas memasak para warga. Setiap wanita yang memasak, menggunakan kayu bakar maupun kompor gas, diwajibkan tidak meninggalkan dapur sebelum api dipastikan benar-benar padam.

“Sedangkan para pria, terutama perokok, harus memastikan puntung rokok benar-benar mati sebelum dibuang ke tempat sampah,” tegasnya.

Lokasi destinasi yang cukup jauh dari pos pemadam kebakaran membuat warga harus memutar otak. Pasalnya, kawasan wisata seluas dua hektare yang dihuni 35 kepala keluarga (KK) ini belum dilengkapi alat pemadam api ringan (APAR). 

Baca Juga: MIM Foundation Siap Danai Pembangunan Masjid Desa Wisata Sade

"Kami berharap ada di berikan perlengkapan ini (APAR, red) termasuk edukasi atau latihan tanggap bencana," katanya. 

Sebagai langkah awal, warga mengandalkan sumur bor dan tandon penampungan air.“Airnya kami simpan di tandon. Paling tidak sebelum mobil pemadam datang, kami sudah punya langkah pertama untuk memadamkan api,” terang Kadir.

Pascakebakaran di Desa Sade, tingkat kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Sasak Ende tercatat mengalami peningkatan, meski belum terlalu signifikan.

“Akhir-akhir ini wisatawan mancanegara yang datang ada dari Prancis, Italia, Spanyol, hingga Belanda. Limpahan wisatawan lokal juga cukup banyak, yang awalnya mau ke Sade beralih ke Ende,” tambahnya.

Fasilitas yang disuguhkan di Desa Wisata Sasak Ende tak kalah memikat dibanding Sade. Wisatawan tetap bisa menikmati keaslian rumah adat berbahan bambu dan ilalang, melihat langsung proses pembuatan kain tenun songket, berburu suvenir di artshop, hingga bersantai di kafe sederhana.

Baca Juga: Gerindra NTB Perjuangkan Anggaran Rekonstruksi Desa Wisata Sade ke Pusat

Wakil Ketua I DPRD NTB Lalu Wirajaya mengatakan, pihaknya menekankan agar Dinas Pariwisata NTB maupun Loteng terlibat dalam meningkatkan antisipasi musibah kebakaran maupun kebencanaan lainnya pada destinasi desa wisata adat.

“Salah satunya di kampung Sasak Adat Ende di Lombok Tengah, tingkatkan juga mitigasi bencana. Sebab apapun itu bahan bakunya dari bahan-bahan yang mudah terbakar juga,” singkatnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Desa Wisata Sasak Ende antisipasi Mitigasi Bencana Kebakaran Desa Wisata Sade